Warung Soto Daging Rp10.000 di Sidoarjo Diserbu Warga: Penjual Belum Tiba, Antrean Sudah Mengular Panjang

Sidoarjo, pojokkasus.com — Fenomena menarik terjadi di sebuah warung soto sederhana bertuliskan “Soto Daging Madura Viral 10.000” di kawasan pemukiman Desa Sugiwaras Sidoarjo. Pada Senin pagi, antrean pembeli tampak mengular meski penjual belum datang untuk membuka warung sepenuhnya. Situasi tersebut menjadi gambaran tingginya kebutuhan masyarakat akan kuliner murah di tengah naiknya harga bahan pangan.

Pantauan di lapangan memperlihatkan sejumlah pembeli sudah berdiri di depan gerobak merah yang masih tertutup sebagian. Mereka membawa tas belanja, wadah makanan, maupun kantong plastik untuk dibawa pulang. Meski penjual belum hadir, tidak ada yang mengeluh atau pergi. Mereka tetap menunggu di bawah spanduk besar berwarna kuning yang mencolok.

“Ya biasa begini. Kalau telat sedikit, bisa panjang sekali antreannya. Jadi ya mending nunggu,” ujar Sulastri (62), salah satu pelanggan yang datang sambil membawa botol minuman dan wadah untuk dibawa pulang.

Ia mengaku sudah menjadi pelanggan tetap, terutama karena harga yang dinilai sangat terjangkau.

Dengan harga hanya Rp10.000, warung ini menjadi pilihan pertama bagi banyak warga sekitar untuk sarapan atau makan siang. Di tengah harga daging dan kebutuhan pokok yang naik secara bertahap, menu semurah ini menjadi solusi bagi warga berpenghasilan menengah ke bawah.

“Saya kerja serabutan. Kalau makan di luar bisa habis 15–20 ribu. Di sini 10 ribu sudah kenyang. Jadi hemat banyak,” kata Adi (29), pelanggan lain yang ikut mengantre.

Menurutnya, meski murah, kualitas soto yang disajikan cukup baik. Kuah yang gurih, daging yang lembut, dan rasa yang konsisten menjadi alasan pelanggan terus kembali.

Tidak lama kemudian, penjual warung, Cak Bambang, tiba sambil membawa bahan tambahan dan bumbu. Ia disambut dengan senyum para pelanggan yang sudah menunggu.

Saat ditemui, Cak Bambang mengaku tidak menyangka warungnya akan menjadi ramai seperti sekarang. “Saya terkejut juga kalau lihat orang nunggu sebelum saya datang. Tapi itu tanda kepercayaan, jadi saya bersyukur,” ujarnya sambil menata panci dan peralatan memasak.

Ia menjelaskan bahwa harga Rp10.000 sengaja dipertahankan meski banyak pedagang lain sudah menaikkan harga. Bagi Cak Bambang, menjaga harga berarti menjaga pelanggan yang sebagian besar adalah warga sekitar dengan kondisi ekonomi bervariasi.

“Kalau saya ikut naikkan harga, kasihan yang belinya setiap hari. Untungnya tipis, tapi yang penting jalan. Yang penting orang bisa makan,” ucapnya.

Tentang keterlambatan membuka warung, ia menjelaskan bahwa persiapan memasak kadang membuatnya sedikit mundur waktu.

“Saya mulai dari subuh. Daging harus empuk dulu, kuah harus jadi dulu. Jadi kadang telat sedikit. Tapi lihat orang sabar nunggu, saya tambah semangat,” katanya.

Mengenai warungnya yang disebut “viral”, Cak Bambang mengaku tidak pernah merencanakan atau mempromosikan secara digital.

“Saya nggak ngerti soal viral. Saya cuma jualan biasa. Tapi kalau orang-orang cocok, itu sudah cukup,” ujarnya dengan ramah.

Warung soto milik Cak Bambang berada di depan ruko yang berdampingan dengan tempat gym. Gerobak merah, meja panjang kayu, dan plastik-plastik berisi kerupuk yang digantung rapi menjadi ciri khasnya.

Kesederhanaan warung justru menjadi daya tarik. Banyak pelanggan mengaku merasa nyaman karena suasana yang akrab, terbuka, dan tidak dibuat-buat.

“Di sini enak. Ramah semua. Kayak makan di rumah tetangga sendiri,” kata Nurhidayah (41) sambil tersenyum.

Ramainya warung meskipun penjual belum datang memperlihatkan bahwa kuliner rakyat tetap menjadi pilihan utama bagi banyak keluarga. Di tengah ekonomi yang fluktuatif, keberadaan warung dengan harga “harga rakyat” sangat dibutuhkan.

Warung Soto Daging Madura Viral 10.000 milik Cak Bambang menjadi contoh bahwa usaha sederhana tetap bisa bertahan dengan prinsip jujur, terjangkau, dan konsisten. Bagi warga setempat, warung ini bukan hanya tempat makan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Selama orang-orang masih percaya sama saya, saya akan tetap berusaha jaga rasa dan jaga harga,” ujar Cak Bambang menutup percakapan (HD)