Ketua JPKPN Prihatin, Sidoarjo Catat Kasus HIV Tertinggi di Jawa Timur, Dinkes: Angka Hasil Skrining Aktif

SIDOARJO, pojokkasus.com – Kabupaten Sidoarjo menjadi sorotan setelah data terbaru dari lembaga pemantau kesehatan menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki jumlah kasus HIV tertinggi di Jawa Timur dibandingkan kabupaten lainnya.

Menurut data yang beredar, jumlah temuan kasus HIV di Sidoarjo mencapai 270 kasus pada tahun 2025, lebih tinggi dibanding kabupaten lain seperti Jember dan Tulungagung. Data ini mencerminkan temuan kasus tertinggi di antara kabupaten/kota di provinsi ini.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah ini secara keseluruhan mencapai sekitar 65.238 orang, menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan angka kasus tertinggi secara nasional. Penyebaran terjadi di banyak wilayah, namun Sidoarjo termasuk yang angka kasusnya mencolok.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakshmi Herawati Yuantina, menjelaskan bahwa tingginya angka kasus HIV di wilayah ini bukan semata karena lonjakan penularan, tetapi lebih menunjukkan upaya skrining dan deteksi dini yang aktif oleh petugas kesehatan.

Menurutnya, jumlah kasus yang terdeteksi ini justru bukti kerja keras dinas dalam mencari dan mengidentifikasi penderita di masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo selama ini telah mengintensifkan berbagai upaya penanganan, termasuk:

Program deteksi dini dan skrining HIV di berbagai wilayah dan kelompok berisiko.

Layanan tes HIV dan pengobatan yang terus diperluas agar mudah diakses masyarakat.

Kolaborasi dengan organisasi lokal dan fasilitas kesehatan untuk edukasi serta pencegahan penularan.

Selain itu, Pemkab Sidoarjo juga telah menetapkan target ambisius untuk menekan angka kasus baru sampai nol pada tahun 2030, sejalan dengan program nasional penanggulangan HIV/AIDS.

Di tempat yang berbeda Ketua DPC JPKPN ( Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan Nasional ) Sidoarjo Muhammad Akbar Ali menyampaikan keprihatinan mendalam atas tingginya jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo yang saat ini tercatat sebagai yang tertinggi di Jawa Timur.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele dan harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah daerah, instansi terkait, maupun seluruh elemen masyarakat. Sabtu, (13/12/2025)

“Angka kasus HIV di Sidoarjo yang tertinggi se-Jawa Timur adalah alarm keras bagi semua pihak. Ini menunjukkan masih lemahnya upaya pencegahan, edukasi, serta pengawasan yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan,” tegas Ketua JPKPN.

Akbar menilai, pemerintah daerah perlu melakukan langkah konkret dan terukur, tidak hanya fokus pada penanganan medis, tetapi juga memperkuat edukasi publik, sosialisasi pola hidup sehat, serta pencegahan sejak dini di lingkungan sekolah, tempat kerja, dan masyarakat umum.

Selain itu, Ketua JPKPN juga mendorong peningkatan transparansi data serta kolaborasi lintas sektor agar penanganan HIV/AIDS tidak bersifat parsial. Menurutnya, stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV juga harus dihilangkan karena justru menghambat upaya deteksi dan penanganan.

“Kami meminta pemerintah tidak hanya reaktif, tetapi proaktif. Program pencegahan harus diperluas dan pengawasan diperketat di tempat yang di sinyalir rawan tersebarnya virus HIV seperti di lokalisasi belakang puskesmas Krian dan maraknya caffe karaoke beserta miras ( minuman keras ) yang tidak jelas legalitasnya dan bermekaran di beberapa titik wilayah Tulangan dan Jabon sidoarjo.

Jika dibiarkan, dampaknya akan semakin luas dan membahayakan generasi ke depan,” tambahnya dengan nada tegas.

JPKPN menyatakan siap mengawal kebijakan pemerintah daerah serta mendorong penguatan regulasi dan program yang berpihak pada upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo secara menyeluruh dan berkelanjutan. (nit)