Hujan Ekstrem Ambrukkan Balai RT Bangunrejo Yogyakarta

Jogyakarta, pojokkasus.com – Hujan ekstrem ambrukkan Balai RT 57 RW 13 Kampung Bangunrejo, Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, hingga rata dengan tanah setelah wilayah tersebut diguyur hujan berintensitas tinggi pada Sabtu, 17 Januari 2026. Bangunan yang selama ini menjadi pusat aktivitas warga itu tak mampu menahan tekanan udara dan pergerakan tanah di bantaran sungai.

Peristiwa yang terjadi di kawasan padat penduduk yang berada pada pertemuan aliran Sungai Buntung dan Sungai Winongo. Otoritas setempat memastikan tidak ada korban dalam kejadian jiwa ini. Meski demikian, kerusakan material dinilai parah dan berpotensi meluas jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Struktur Balai RT dengan panjang sekitar 10 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 3 meter tersebut runtuh total. Posisi bangunan yang berdiri dekat aliran sungai mempercepat proses ambruk akibat gerusan air dan labilnya tanah penyangga di bagian bawah.

Balai RT Runtuh, Aktivitas Warga Lumpuh

Ambruknya Balai RT 57 berdampak langsung pada aktivitas sosial warga Kampung Bangunrejo. Selama ini, bangunan tersebut berfungsi sebagai ruang rapat, pusat koordinasi keamanan lingkungan, hingga tempat musyawarah warga dalam kondisi darurat.

Keruntuhan total membuat warga kehilangan fasilitas publik yang strategis. Puing bangunan juga menutup sebagian akses di sekitar bantaran sungai, sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaan saat melintas, terutama pada malam hari dan saat hujan turun.

Warga bersama relawan lokal saat ini masih bersiaga di lokasi kejadian. Mereka mengamati kondisi tanah dan aliran air guna mengantisipasi potensi longsor susulan, cuaca mengingat di wilayah Yogyakarta masih menunjukkan pola hujan yang fluktuatif.

Hujan ekstrem Amburukan
Hujan Ekstrem Ambrukan Balai RT 57 Bangunrejo, Kricak, Yogyakarta ambruk total akibat hujan ekstrem. Kerusakan mengancam Jembatan Merah dan keselamatan warga bantaran sungai.

Ancaman Serius di Jembatan Merah

Dampak kerusakan tidak berhenti pada bangunan balai pertemuan. Ambruknya Balai RT turut mempengaruhi stabilitas bantalan Sungai Buntung dan Sungai Winongo. Arus deras air hujan mempercepat pengikisan tanah di sekitarnya.

Salah satu titik paling bawah berada di Jembatan Merah, akses utama penghubung Kampung Bangunrejo dengan Kampung Pingit. Laporan dari lapangan menyebutkan sisi samping pondasi jembatan mulai mengalami pengikisan atau “lontong”.
Jika tidak segera mendapat penanganan teknis, akses vital antarkampung tersebut terancam putus. Kondisi ini berpotensi mengganggu mobilitas warga, aktivitas ekonomi lokal, hingga jalur darurat.

Longsor Sarangan Timbun Wisatawan, Liburan Berubah Mencekam

Normalisasi Saluran Air Warnai HUT Kodim 0830

Penilaian Tim Bergerak Cepat

Pasca-kejadian, Tim Assessment dari Kampung Tangguh Bencana (KTB) Bangunrejo Yogyakarta langsung turun ke lokasi untuk melakukan pendataan kerusakan. Tim ini memimpin koordinasi awal bersama unsur relawan dan aparat wilayah.

Relawan Jaga Jalan (RJJ) Kelurahan Kricak, pamong desa, serta warga RT 57 RW 13 juga bergotong royong mengamankan wilayah rawan. Fokus utama mereka adalah memastikan mencegah warga mendekati titik berbahaya dan tidak ada aktivitas yang berisiko tinggi.

Hingga berita ini diturunkan, kondisi lokasi masih dinyatakan belum sepenuhnya aman. Tim gabungan memprioritaskan penilaian risiko teknis sebelum melakukan pengungkapan material bangunan yang ambruk.

Urgensi Perbaikan Demi Keselamatan Masyarakat

Peristiwa ini menjadi peringatan serius akan ancaman bencana hidrometeorologi di kawasan bantaran sungai. Kerusakan Balai RT bukan hanya kerugian fisik, namun juga kerugian sosial yang signifikan bagi warga Bangunrejo.

Warga berharap pemerintah kota dan instansi terkait segera turun tangan memberikan bantuan teknis, terutama penguatan bantalan sungai dan perbaikan pondasi Jembatan Merah. Langkah cepat dinilai krusial untuk mencegah kerusakan lanjutan yang lebih luas.

“Kami berharap perbaikan segera dilakukan, terutama di jembatan dan bantalan sungai. Ini menyangkut keselamatan dan mobilitas warga setiap hari,” ujar salah satu warga di lokasi.

Keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama sambil menunggu hasil penilaian selesai. Tanpa penanganan yang cepat dan terukur, ancaman terhadap infrastruktur dan kehidupan sosial warga berpotensi terus membesar. (F4 di-Awos)