Probolinggo, pojokkasus.com – Jalan Pantura lumpuh total setelah banjir hebat merendam jalur nasional Pasuruan–Probolinggo pada Sabtu malam, 17 Januari 2026. Genangan air setinggi setengah meter lebih langsung memutus arus lalu lintas utama Jawa Timur dan memicu kemacetan panjang dari dua arah.
Hujan dengan intensitas sangat ekstrem yang mengguyur wilayah pesisir sejak sore hari menjadi pemicu utama. Air meluap dan menyapu kawasan Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, hingga menggenangi badan jalan nasional yang selama ini menjadi urat nadi distribusi logistik dan mobilitas masyarakat.
Luapan air yang tidak tertampung oleh sistem drainase membuat jalur Pantura tidak dapat dilalui kendaraan kecil maupun besar secara normal. Kendaraan terpaksa merayap, berhenti total, atau berbalik arah karena ketinggian air yang terus meningkat.
Genangan Tinggi Lumpuhkan Arus Lalu Lintas
Berdasarkan laporan petugas di lapangan, ketinggian air di badan Jalan Pantura mencapai sekitar 50 hingga 70 sentimeter. Kondisi tersebut membuat sepeda motor dan mobil berisiko tinggi mengalami kerusakan mesin jika memaksakan melintas.
Kemacetan panjang pun tak terhindarkan. Antrean kendaraan mengular dari arah Pasuruan menuju Probolinggo maupun sebaliknya. Truk logistik, bus antarkota, hingga kendaraan pribadi terjebak berjam-jam tanpa kepastian waktu tempuh.
Banyak pengendara roda dua yang nekat menerobos genangan akhirnya mengalami mogok di tengah jalan. Sepeda motor yang mati mesin memperparah sumbatan arus, karena harus dievakuasi satu per satu di tengah derasnya arus air
Longsor Sarangan Timbun Wisatawan, Liburan Berubah Mencekam
Sinergi Petugas Evakuasi Pengendara
Aparat kepolisian bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, relawan, dan warga setempat bergerak cepat membantu pengendara yang terjebak. Petugas lalu lintas aktif mengatur arus kendaraan dan memasang peringatan agar pengemudi tidak menerjang titik terdalam banjir.
Relawan tampak berjibaku mendorong sepeda motor yang mogok menuju area lebih kering. Sejumlah kendaraan berat diarahkan untuk berhenti sementara guna mencegah gelombang air semakin besar.
Hingga malam hari, hujan masih turun dengan intensitas tinggi di sekitar Bayeman Tongas. BPBD terus memantau debit air sungai dan saluran di sekitar lokasi karena genangan belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Banjir Rendam Permukiman Warga
Bencana ini tidak hanya melumpuhkan Jalan Pantura, tetapi juga merendam permukiman warga di Bayeman. Air masuk ke rumah-rumah penduduk dengan ketinggian mencapai 70 sentimeter, menyisakan lumpur dan kerusakan serius.
Kecepatan air yang datang secara tiba-tiba membuat banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang berharga. Perabot rumah tangga, peralatan elektronik, hingga sepeda motor terendam banjir dan mengalami kerusakan.
Kondisi gelap di sejumlah titik permukiman memperparah situasi. Warga terpaksa mengevakuasi anggota keluarga secara mandiri ke tempat yang lebih tinggi atau mengungsi ke rumah kerabat yang aman dari genangan.
Dampak Sosial dan Peringatan Serius
Tim reaksi cepat masih bersiaga untuk memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Fokus petugas saat ini mencakup pengamanan pengungsi, distribusi bantuan darurat, serta upaya membuka kembali arus lalu lintas Jalan Pantura.
Lumpuhnya jalur nasional ini berdampak langsung pada distribusi logistik di wilayah timur Pulau Jawa. Keterlambatan pengiriman barang dan terganggunya mobilitas warga menjadi konsekuensi nyata yang tak terhindarkan.
“Banjir ini bukan sekadar genangan rutin, tapi alarm keras soal kapasitas drainase dan tata lingkungan di kawasan Pantura,” ujar seorang koordinator relawan di lokasi. Ia berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang. (F4 di-Awos)





