Legenda Arema Kuncoro Tutup Usia di Gajayana

Malang, pojokkasus.com – Legenda Arema Kuncoro dimakamkan dengan iringan duka mendalam di Kota Malang pada Senin (19/1/2026). Ratusan pelayat mengantar kepergian sosok yang dikenal sebagai legenda sepak bola Malang sekaligus Asisten Pelatih Arema FC itu dalam prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat dan penuh haru.

Ribuan orang, mulai dari keluarga besar, jajaran manajemen klub, pemain aktif, hingga suporter fanatik Aremania, memadati rumah duka hingga Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata besarnya pengaruh dan cinta publik Malang Raya terhadap sosok Kuncoro.

Kepergian Kuncoro terjadi secara mendadak setelah ia mengalami serangan jantung di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada Minggu (18/1/2026) sore. Peristiwa tragis itu berlangsung tepat di tengah perayaan 100 tahun Stadion Gajayana, momen bersejarah yang seketika berubah menjadi duka kolektif.

Legenda Arema Kuncoro
Legenda Arema FC Kuncoro wafat akibat serangan jantung di Stadion Gajayana. Ribuan pelayat antar pemakaman sang ikon sepak bola Malang Raya.

Wafat di Tempat Paling Bersejarah

Kuncoro menghembuskan napas terakhir di stadion yang menjadi saksi perjalanan panjang karier sepak bolanya. Semasa aktif bermain, ia dikenal sebagai gelandang “pengangkut air” yang bekerja senyap namun vital bagi tim. Perannya tidak pernah mencolok, tetapi selalu menentukan keseimbangan permainan Arema.

Bagi publik Malang, Stadion Gajayana bukan sekadar arena pertandingan. Tempat itu menjadi ruang hidup bagi kenangan, perjuangan, dan dedikasi Kuncoro selama puluhan tahun. Wafatnya sang legenda di lokasi tersebut menambah dimensi emosional yang mendalam bagi para pelayat.

http://Baca juga : Tragedi Pembacokan Wonokusumo Guncang Warga Surabaya Utara Redaksi pojokkasus 18 Januari 2026

http://Baca juga : Pertemuan Tahunan AWOS Perkuat Konsolidasi DPC Pasuruan Raya

Suasana Haru di Rumah Dukan

Sejak pagi hari, suasana duka menyelimuti rumah almarhum. Bendera kuning terpasang di sepanjang akses menuju rumah duka, menandai kepergian tokoh yang dihormati lintas generasi. Karangan bunga dari tokoh sepak bola nasional, mantan pemain, hingga pejabat daerah terus berdatangan silih berganti.

Para pemain Arema FC hadir mengenakan seragam hitam sebagai simbol belasungkawa. Mereka menyampaikan rasa kehilangan atas sosok mentor yang dikenal tegas, disiplin, namun memiliki selera humor yang membumi. Bagi banyak pemain muda, Kuncoro bukan hanya asisten pelatih, melainkan figur ayah yang membimbing di dalam dan luar lapangan.

Kapten tim Arema FC menegaskan bahwa almarhum selalu menanamkan nilai kerja keras dan loyalitas. “Beliau mengajarkan kami arti disiplin dan kebersamaan,” ujarnya singkat di sela prosesi.

Detik-Detik Terakhir di Stadion Gajayana
Sebelum insiden,

Kuncoro mengikuti rangkaian acara peringatan satu abad Stadion Gajayana. Sejumlah saksi mata menyebut almarhum sempat bercengkrama dengan rekan-rekan sejawatnya, sesama legenda Arema, dalam suasana hangat dan penuh nostalgia.

Tak lama kemudian, Kuncoro terjatuh tak sadarkan diri di tepi lapangan. Tim medis yang siaga segera memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi almarhum ke rumah sakit terdekat. Pihak rumah sakit mengonfirmasi penyebab meninggal dunia adalah henti jantung mendadak. Meski upaya resusitasi telah dilakukan maksimal, nyawa sang legenda tidak tertolong.

Kabar tersebut membuat perayaan yang semula meriah berubah menjadi hening. Isak tangis pecah di tribun, dan ribuan pengunjung stadion larut dalam duka.

Warisan Abadi Legenda Singo Edan

Manajemen Arema FC menyatakan kehilangan besar atas wafatnya Kuncoro, sosok yang mengabdi sejak menjadi pemain hingga staf kepelatihan. Loyalitasnya terhadap klub dinilai tak tergantikan dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Di luar lapangan, Kuncoro aktif membina bibit muda sepak bola Malang. Dampak sosial kepergiannya terasa luas, terutama bagi pemain-pemain muda yang tumbuh dengan nilai disiplin dan semangat “Singo Edan” yang ia tanamkan.

“Sepak bola Malang kehilangan ruhnya hari ini, namun dedikasi Kuncoro akan selalu abadi di rumput Gajayana,” ujar salah satu rekan setimnya. Kepergian Kuncoro menutup satu bab penting dalam sejarah Arema, tetapi warisannya tetap hidup dalam denyut sepak bola Malang Raya. (F4ndi)