Maut Perlintasan Kereta Api, Misteri Nyawa Melayang

Sidoarjo, pojokkasus.com – Maut perlintasan kereta api kembali menelan korban jiwa. Seorang pria tak diketahui tewas mengenaskan setelah tertabrak rangkaian Kereta Api (KA) Jenggala di perlintasan tanpa palang pintu Desa Jatialun-alun, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (18/1/2026) sore.

Peristiwa tragis tersebut terjadi sekitar pukul 16.30 WIB dan langsung menggemparkan warga sekitar. Hingga Minggu malam, identitas korban masih menjadi misteri karena tidak ditemukan satu pun dokumen pribadi yang menempel pada tubuhnya. Polisi pun bergerak cepat mengamankan lokasi kejadian.

Jenazah korban ditemukan dalam kondisi rusak parah akibat benturan keras dengan kereta yang melaju dari arah barat ke timur. Warga sekitar mengaku tidak mengenali korban, sehingga kuat dugaan pria tersebut bukan warga setempat.

Detik-detik Maut di Jalur Tanpa Palang

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, korban terlihat berjalan kaki di sisi kereta api beberapa saat sebelum kejadian. Pada saat yang sama, KA Jenggala rute Mojokerto–Sidoarjo melintas dan mendekati kawasan organisasi warga.

Masinis telah membunyikan semboyan 35 atau klakson peringatan secara berulang. Namun, korban tetap berada di jalur berbahaya tersebut dan tidak menunjukkan reaksi menghindar. Tabrakan pun tak terelakkan.

Benturan keras membuat tubuh korban terpental beberapa meter dari titik awal tabrakan. Warga yang menyaksikan kejadian tersebut langsung berteriak meminta pertolongan dan melaporkan kejadian tersebut ke perangkat desa serta Polsek Prambon.

“Kejadiannya sangat cepat. Masinis sudah membunyikan klakson, warga juga berteriak, tapi korban tetap tidak menjauh,” ujar seorang Saksi mata yang berada di area persawahan dekat lokasi kejadian.

Perlintasan Kereta Api, Misteri Nyawa Melayang
Pria tewas tertabrak kereta api di perlintasan tanpa palang Desa Jatialun-alun, Prambon, Sidoarjo. Identitas korban misterius, polisi melakukan penyelidikan.

Polisi Amankan TKP dan Lakukan Identifikasi

Petugas Polsek Prambon tiba di lokasi tak lama setelah menerima laporan warga. Polisi langsung memasang garis polisi untuk mengamankan area dan melakukan olah tempat Kejadian Perkara (TKP).

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi tidak menemukan kartu identitas, ponsel, maupun barang pribadi lain yang bisa mengungkap jati diri korban. Secara fisik, korban diperkirakan berusia antara 40 hingga 50 tahun, mengenakan kaus berwarna gelap dan celana kain.

Minimnya Saksi yang mengenal korban memperkuat dugaan bahwa pria tersebut merupakan pendatang atau bukan warga Desa Jatialun-alun. Setelah proses identifikasi awal, jenazah dievakuasi ke RSUD Sidoarjo untuk penanganan lebih lanjut.

Pihak kepolisian kini berkoordinasi dengan perangkat desa dan polsek di wilayah sekitar Kecamatan Prambon guna melacak kemungkinan keluarga korban.

http://Baca juga : Legenda Arema Kuncoro Tutup Usia di Gajayana

Polres Kediri Kota Kembalikan Motor Curian Warga Gratis

Perlintasan Tanpa Palang Jadi Sorotan

Insiden ini kembali menyoroti lemahnya aspek keselamatan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di wilayah Sidoarjo. Jalur tersebut kerap dilalui warga untuk beraktivitas sehari-hari, meski berstatus sebagai kawasan objek vital nasional.

Kapolsek Prambon menegaskan, rel kereta api bukan ruang publik yang aman untuk beraktivitas. Ia meminta masyarakat lebih disiplin dan waspada saat berada di sekitar jalur kereta.

“Rel kereta api sangat berbahaya. Kami mengimbau warga untuk tidak berjalan kaki atau berdiam di sepanjang rel, serta selalu menengok kanan dan kiri sebelum melintas,” tegasnya.

Peringatan Keras Bagi Semua Pihak

Tragedi maut ini menambah daftar panjang korban jiwa akibat kecelakaan kereta api di perlintasan tanpa pengaman. Selain menimbulkan duka, kejadian ini memicu kekhawatiran sosial dan tuntutan warga agar pemerintah serta pihak terkait segera meningkatkan fasilitas keselamatan.

Selama palang pintu dan pengawasan belum memadai, nyawa manusia akan terus berada di ujung risiko. Identitas korban kini menjadi kunci agar hak kemanusiaannya terwujud, sekaligus menjadi alarm keras bahwa ketidakadilan sekecil apa pun di jalur kereta api dapat berakhir kematian. (F4/Nit)