Pasuruan, pojokkasus.com – Tanah longsor kembali menghantui wilayah pegunungan Kabupaten Pasuruan. Hujan deras disertai angin kencang memicu bencana tanah longsor yang merusak dua unit rumah warga di Desa Gambiran, Kecamatan Prigen, Senin (19/1/2026). Peristiwa yang terjadi sejak siang hingga sore hari itu sempat memicu kepanikan warga sekitar, meski dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.
Hujan dengan intensitas tinggi mulai mengguyur kawasan Prigen sejak pukul 12.45 WIB. Cuaca ekstrem tersebut berlangsung berjam-jam tanpa jeda, diperparah hembusan angin kencang yang membuat kondisi lingkungan semakin rawan. Puncaknya, sekitar pukul 17.30 WIB, tanah di kawasan perbukitan Desa Gambiran yang labil tidak mampu lagi menahan debit air dan akhirnya longsor.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi masih nyata di wilayah Pasuruan, terutama di daerah perbukitan yang memiliki kontur tanah curam dan daya dukung lahan terbatas.
Hujan Deras Picu Longsor Lereng
Tanah longsor terjadi di area permukiman warga yang berada dekat lereng perbukitan. Material tanah bercampur bebatuan meluncur deras ke bawah, menghantam bagian belakang rumah warga. Suara runtuhan tanah yang keras sempat membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Sejumlah warga mengaku panik karena hujan belum juga reda saat longsor terjadi. Kekhawatiran akan longsor susulan membuat sebagian warga memilih menjauh dari lokasi dan mencari tempat yang lebih aman.
Dua Rumah Warga Alami Kerusakan Serius, Kerusakan terparah dialami rumah milik Fitria (33), warga Dusun Pintrang RT 05 RW 07, Desa Gambiran. Longsoran tanah menghantam bagian belakang rumah hingga menyebabkan dapur ambruk total. Material tanah dan batu menutup sebagian area rumah, sehingga bangunan tersebut tidak bisa langsung ditempati.

Sementara itu, rumah milik Suparmo (37) yang berada tidak jauh dari lokasi pertama juga terdampak. Struktur tembok rumah mengalami retak dan sebagian tergerus tanah, meski bangunan utama masih berdiri. Kedua keluarga terpaksa membersihkan material longsor secara manual sambil menunggu penanganan lanjutan dari pihak terkait.
http://Baca juga Buang Sampah Sembarangan, Wabup Sidoarjo Ultimatum Keras 2026
http://Baca juga Rapat Karang Taruna Pandean Teguhkan Regenerasi Pemuda
Aparat Gabungan Bergerak Cepat
Kapolsek Prigen, AKP Mulyono, S.Sos., M.H., menjelaskan bahwa hujan deras dengan curah tinggi dan angin kencang menjadi faktor utama terjadinya longsor. Kondisi tanah yang jenuh air mempercepat pergerakan tanah di lereng.
“Begitu menerima laporan, kami langsung menuju lokasi kejadian untuk memastikan situasi aman dan melakukan langkah awal penanganan,” tegas AKP Mulyono.
Polsek Prigen segera berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas Desa Gambiran, Kepala Desa Gambiran, serta Karang Taruna setempat. Sinergi lintas unsur ini dilakukan untuk mempercepat penanganan dan memastikan keselamatan warga di sekitar lokasi.
Antisipasi Risiko Lanjutan
Selain melakukan pengecekan rumah terdampak, aparat gabungan juga berkoordinasi dengan pihak PLN untuk mengamankan jaringan listrik di sekitar lokasi longsor. Langkah ini dinilai penting guna mencegah potensi bahaya lanjutan seperti korsleting atau sengatan listrik.
“Kami pastikan kabel listrik di sekitar lokasi aman agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi warga,” tambah AKP Mulyono.
Hingga berita ini diturunkan, proses pendataan kerusakan dan penanganan darurat masih berlangsung. Aparat mengimbau warga yang tinggal di sekitar lereng agar meningkatkan kewaspadaan, terutama jika hujan deras kembali mengguyur wilayah Prigen.
Dampak Sosial dan Imbauan Kewaspadaan
Bencana tanah longsor ini tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga mengguncang rasa aman warga. Aktivitas sehari-hari terganggu, dan kekhawatiran akan longsor susulan masih membayangi masyarakat sekitar.
Pihak kepolisian bersama pemerintah desa mengajak warga untuk lebih peka terhadap tanda-tanda pergerakan tanah, menjaga lingkungan sekitar, serta segera melapor jika melihat potensi bahaya. Kewaspadaan dan mitigasi dini menjadi kunci untuk menekan risiko jatuhnya korban di tengah ancaman bencana yang masih mengintai. (G10)





