Ramadan Datang, Bupati Subandi Tekankan Stabilitas Daerah

Sidoarjo, pojokkasus.com – Ramadhan Datang menjadi penekanan utama Bupati Sidoarjo H. Subandi saat mengajak seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat menjaga stabilitas politik, keamanan, serta ketenteraman sosial menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Ajakan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Tim Pemantauan Perkembangan Politik di Daerah yang digelar di Fave Hotel Sidoarjo, Senin (9/2/2026).

Rapat koordinasi ini melibatkan pimpinan DPRD Kabupaten Sidoarjo, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Fredik Suharto, Kapolresta Sidoarjo, Dandim 0816 Sidoarjo, jajaran Forkopimda, serta perwakilan organisasi keagamaan. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi lintas sektor guna mengantisipasi potensi gangguan stabilitas selama Ramadhan.

Dalam berbagai hal tersebut, Subandi menegaskan bahwa perbedaan pandangan keagamaan, termasuk perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih, tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Ia meminta semua pihak mengedepankan sikap saling menghormati dan menjaga komunikasi di wilayah masing-masing.

Menurutnya, Ramadhan harus menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan sebaliknya. “Yang terpenting adalah toleransi, koordinasi, dan saling menghargai. Jangan sampai perbedaan kecil memicu kegaduhan sosial,” tegas Subandi.

Ketertiban Umum Jadi Perhatian Selama Ramadhan. .                                      Bupati Subandi juga memberikan arahan khusus kepada jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), agar lebih aktif melakukan pemantauan umum selama bulan puasa. Ia menyoroti aktivitas pedagang kaki lima (PKL) yang masih menjual makanan pada siang hari.

Polsek Sedati Tutup Arena Judi Sabung Ayam di Desa Pepe, Warga Soroti Penegakan Hukum

Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi dengan pendekatan persuasif melalui sosialisasi, bukan penindakan represif. Ia menekankan bahwa PKL tetap harus ditoleransi sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, namun pengaturannya tidak boleh mengganggu kekhusyukan ibadah puasa.

“Prinsipnya saling menghormati. PKL tetap boleh berjualan, tapi jangan sampai mengganggu kenyamanan dan rasa hormat kepada warga yang berpuasa,” ujarnya.
Subandi meminta Satpol PP dan perangkat wilayah berperan aktif mengedukasi masyarakat agar tercipta suasana Ramadhan yang aman, nyaman, dan kondusif.

Ramadan Datang
Menjelang Ramadhan, Bupati Sidoarjo Subandi tekanan stabilitas daerah, toleransi ibadah, pelanggaran PKL, pengawasan sekolah, hingga pengaturan pengajian dan takbiran.

Outing Class Sekolah Disorot, Dispendik Diminta Tegas .                            Selain isu umum, Subandi menyoroti pelaksanaan kegiatan sekolah, khususnya outing class. Ia meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo bersikap lebih tegas dalam pengawasan kegiatan tersebut, terutama yang dinilai tidak sesuai dengan arahan.

Ia menegaskan bahwa outing class seharusnya cukup dilakukan di wilayah Kabupaten Sidoarjo atau daerah terdekat. Menurutnya, masih ditemukan praktik kegiatan yang tidak transparan dan tertutup, sehingga mencederai kepercayaan masyarakat.

“Kepala sekolah harus memberi contoh yang baik. Jangan ada kegiatan yang dilarang. Semua harus terbuka dan sesuai aturan,” tegasnya.

Lapas Sidoarjo Panen Telur, Bukti Pembinaan Produktif

Langkah ini, kata Subandi, penting untuk menjaga integritas dunia pendidikan sekaligus melindungi peserta didik dari kegiatan yang berpotensi menimbulkan masalah.

Pengajian Malam dan Takbiran Akan Diatur SE
Bupati Subandi juga mengganggu kegiatan pengajian malam hari yang kerap berlangsung hingga larut malam. Ia menilai perlunya adanya kesepakatan bersama mengenai batas waktu kegiatan agar tidak mengganggu waktu istirahat warga.

Ia menyebutkan bahwa pengajian yang berlangsung hingga pukul 24.00 perlu dikaji ulang. Pemerintah daerah akan menyusun Surat Edaran (SE) sebagai pedoman penyesuaian aktivitas masyarakat selama Ramadhan.

Selain itu, tradisi takbiran keliling menjelang Idulfitri juga akan dirundingkan kembali bersama Forkopimda dan tokoh masyarakat. Jika dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan, takbiran dapat diarahkan untuk dilaksanakan di lingkungan masing-masing atau sekolah.

Meski demikian, Subandi menegaskan tidak ingin kearifan lokal yang telah mengakar justru ditinggalkan. Ia menyebut tradisi takbiran anak-anak dengan obor tetap perlu dijaga agar suasana menyambut Lebaran tetap semarak, aman, dan bermakna bagi masyarakat Sidoarjo. (nit)