Rajutan Karya Warga Binaan Di Balik Jeruji Lapas Sidoarjo.

Sidoarjo, pojokkasus.com – Rajutan karya Warga Binaan di balik jeruji Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIA Sidoarjo menembus angka 1.400 lembar (pcs) cover tas sepanjang tahun 2026. Produk tersebut dikerjakan langsung di Bengkel Kerja Lapas dengan sistem produksi terstruktur dan pendampingan pelatihan intensif dari petugas. Capaian ini menjadi bagian dari program pelatihan kemandirian yang terus didukung oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur.

Lapas Kelas IIA Sidoarjo menggerakkan program kerja produktif sebagai pelatihan strategi berbasis keterampilan. Petugas membagi proses produksi dalam beberapa tahapan, mulai dari pemotongan bahan, penjahitan, hingga finishing. Setiap tahap dikerjakan secara sistematis untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Petugas pelatihan kerja mengawasi langsung proses produksi di bengkel.

Mereka memastikan standar kualitas, waktu yang tepat, serta disiplin kerja berjalan konsisten. Warga binaan mengikuti jadwal kerja yang telah ditentukan dan menjalankan tugas sesuai pembagian peran masing-masing.

Kepala Lapas Kelas IIA Sidoarjo menegaskan, program konveksi ini tidak sekedar mengejar target produksi. “Kami membekali warga binaan dengan keterampilan nyata agar mereka siap kembali ke masyarakat dengan kemampuan yang bisa langsung digunakan,” ujarnya.

Selain pelatihan keterampilan teknis menjahit dan produksi, program ini juga menanamkan nilai tanggung jawab, kerja sama tim, dan etos kerja. Lapas mendorong warga binaan untuk memahami alur produksi secara menyeluruh agar memiliki gambaran utuh tentang dunia kerja konveksi.

karya
Lapas Kelas IIA Sidoarjo produksi 1.400 cover tas sepanjang 2026 melalui program pelatihan kemandirian warga binaan berbasis keterampilan konveksi.

Pembinaan Kemandirian Berbasis Keterampilan
Sepanjang 2026, produksi 1.400 cover tas dilakukan secara bertahap. Lapas menyesuaikan kapasitas kerja dengan jumlah warga binaan yang mengikuti pelatihan. Petugas memastikan setiap peserta mendapatkan kesempatan praktik langsung agar kompetensi meningkat.
Program ini menjadi bagian dari pelatihan kemandirian yang terintegrasi dengan sistem pemasyarakatan. Lapas menilai keterampilan konveksi memiliki peluang pasar yang luas dan relatif mudah dikembangkan menjadi usaha mandiri. Dengan bekal tersebut, warga binaan diharapkan mampu membuka usaha kecil atau bekerja di sektor garmen setelah bebas.

Kegiatan kerja produktif juga memberikan nilai ekonomi. Hasil produksi dapat mendukung keberlangsungan program pelatihan dan memberi pengalaman nyata terkait manajemen produksi. Namun, pihak lapas tetap menempatkan aspek pelatihan karakter sebagai prioritas utama.

Kepala Lapas menyatakan bahwa pelatihan berbasis kerja produktif terbukti meningkatkan kepercayaan diri warga binaan. Mereka belajar memenuhi target, menjaga kualitas, serta memahami pentingnya komitmen dalam bekerja.

Lapas Kelas IIA Sidoarjo terus mengembangkan model pelatihan yang berkelanjutan dan berdampak. Melalui produksi cover tas ini, lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga membangun kapasitas sumber daya manusia agar lebih siap kembali ke lingkungan sosial.

Keberhasilan memproduksi 1.400 tas penutup menjadi indikator konkret bahwa pelatihan di balik dinding lapas berjalan aktif dan terukur. Program ini menampilkan upaya nyata membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih mandiri, produktif, dan bertanggung jawab. (nit)