Sidoarjo, pojokkasus.com – Polres Sidoarjo bongkar praktik oplosan LPG subsidi ilegal yang merugikan negara dan membahayakan masyarakat. Dalam agenda press release resmi, jajaran kepolisian memaparkan pengungkapan kasus penyalahgunaan distribusi LPG subsidi 3 kilogram yang dipindahkan ke tabung gas portable non-subsidi untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Kasus ini masuk kategori dugaan tindak pidana penyalahgunaan pengangkutan dan niaga bahan bakar gas bersubsidi yang penyalurannya telah diatur pemerintah. Aparat menyebut pelaku memanfaatkan celah distribusi untuk meraup keuntungan pribadi dari selisih harga LPG subsidi dan non-subsidi di pasaran.
Kapolres Sidoarjo, Christian Tobing, menegaskan bahwa pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat dan hasil penyelidikan di lapangan. Polisi menemukan aktivitas pemindahan isi tabung LPG 3 kilogram ke tabung portable menggunakan alat tertentu tanpa izin resmi.
Menurutnya, pelaku kemudian memasarkan gas hasil pemindahan itu sebagai produk non-subsidi dengan margin keuntungan lebih besar. Praktik tersebut jelas melanggar aturan distribusi energi karena LPG subsidi diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Pengedar Sabu 10 Poket Dibekuk Satresnarkoba
Modus Oplosan dan Ancaman Pidana
Polisi menjelaskan pelaku membeli LPG subsidi dalam jumlah tertentu dari jalur distribusi yang sah. Setelah itu, pelaku memindahkan isinya ke tabung portable yang tidak termasuk skema subsidi pemerintah. Proses ini dilakukan tanpa standar keselamatan industri migas dan tanpa pengawasan teknis yang memadai.

http://Baca juga Resmikan SPPG Polri, Polres Pasuruan Gaspol Ketahanan Pangan
Petugas menilai tindakan itu bukan sekadar pelanggaran administratif. Risiko kebocoran gas, ledakan, hingga kebakaran sangat tinggi karena pemindahan dilakukan dengan peralatan seadanya. Lingkungan sekitar lokasi operasi berpotensi terdampak jika terjadi insiden.
Selain merugikan negara dari sisi anggaran subsidi, praktik ini juga mengganggu stabilitas distribusi energi nasional. Penyidik kini mendalami kemungkinan adanya jaringan distribusi yang terlibat, baik dari sisi pemasok LPG subsidi maupun jalur pemasaran hasil oplosan.
Polisi memeriksa sejumlah saksi dan menelusuri alur distribusi untuk memastikan apakah ada pihak lain yang terlibat. Jika terbukti bersalah, pelaku terancam dijerat pasal terkait penyalahgunaan pengangkutan dan niaga bahan bakar bersubsidi, serta ketentuan lain yang mengatur perlindungan konsumen dan standar keselamatan.
Subandi Resmikan Double Deck Parkir RSUD Notopuro
Dampak Sosial dan Pengawasan Distribusi
Praktik oplosan LPG subsidi berpotensi menimbulkan kelangkaan di tingkat pengecer. Ketika distribusi tidak tepat sasaran, masyarakat miskin yang berhak menerima subsidi akan kesulitan memperoleh LPG 3 kilogram dengan harga yang ditetapkan pemerintah.
Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga di lapangan dan memperbesar beban ekonomi rumah tangga kecil. Polisi menegaskan bahwa pengawasan distribusi LPG subsidi di wilayah Sidoarjo akan diperketat untuk mencegah praktik serupa terulang.
Dalam kesempatan itu, aparat mengimbau masyarakat agar membeli LPG di pangkalan resmi dan memeriksa kondisi segel serta berat isi tabung sebelum digunakan. Warga diminta segera melapor jika menemukan indikasi pemindahan isi tabung subsidi atau aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.
Kapolres menegaskan pihaknya tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam proses hukum. Namun, ia memastikan aparat akan bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran yang merugikan kepentingan publik. “Kami berkomitmen menjaga distribusi energi bersubsidi tetap tepat sasaran dan melindungi hak masyarakat,” ujarnya.
Pengungkapan ini menjadi sinyal kuat bahwa penyalahgunaan LPG subsidi bukan sekadar pelanggaran ekonomi, melainkan persoalan sosial yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Ketika subsidi diselewengkan, masyarakat kecil menjadi pihak paling terdampak. Penegakan hukum yang konsisten dan pengawasan publik yang aktif menjadi kunci menjaga keadilan distribusi energi di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat. (nit)







