Kampung Tempe Parerejo Pasuruan Geliatkan Ekonomi Lokal Desa

PASURUAN, pojokkasus.com – Kampung Tempe Parerejo kini menjadi motor penggerak ekonomi utama bagi masyarakat di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan senin 19/01/2026.

Desa ini tidak sekadar mempertahankan tradisi kuliner Jawa, tetapi bertransformasi menjadi pusat industri kreatif berbahan baku kedelai.

Aroma khas kedelai rebus menyambut setiap pengunjung yang melintasi pemukiman warga, menandakan aktivitas produksi yang berlangsung nyaris tanpa henti setiap harinya.

Warisan turun-temurun ini melibatkan ratusan warga yang menggantungkan hidup dari proses fermentasi kedelai.

Peralatan tradisional seperti tungku kayu bakar masih bersanding dengan kemasan modern, menciptakan harmoni antara keaslian rasa dan tuntutan pasar masa kini.

Tempe dari Parerejo tidak lagi hanya dikenal sebagai lauk sederhana, melainkan komoditas bernilai tambah tinggi.

Inovasi Produk dan Edukasi Tempe

Mukhammad Irfan, salah satu pengrajin lokal, membuktikan bahwa kreativitas mampu meningkatkan nilai ekonomi tempe secara signifikan.

Dalam satu hari, ia mengolah hingga 1 kwintal kedelai menjadi berbagai varian produk.

Irfan tidak hanya menjual tempe batangan konvensional, tetapi juga merambah ke produk olahan seperti keripik, nugget, hingga brownies dan cookies berbahan tempe.

Berkat diversifikasi produk tersebut, Irfan mampu meraup omzet hingga Rp50 juta per bulan.

Ia menekankan bahwa pasar tempe batangan di pasar tradisional tetap stabil, namun produk olahan kemasan mika dan camilan krispi memberikan margin keuntungan yang lebih besar.

Strategi ini terbukti efektif menarik minat konsumen dari luar daerah yang mencari oleh-oleh khas Pasuruan.

Selain fokus pada produksi, Irfan mendirikan “Omah Edukasi Tempe“.

Fasilitas ini terbuka bagi masyarakat umum, pelajar, maupun wisatawan yang ingin mempelajari proses pembuatan tempe dari hulu ke hilir.

Langkah edukatif ini bertujuan untuk melestarikan pengetahuan tradisional sekaligus memperkenalkan inovasi olahan tempe kepada generasi muda.

Perputaran Uang Mencapai Ratusan Juta

Skala produksi di Desa Parerejo memang tergolong masif. Camat Purwodadi, Sugiarto, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 185 pengrajin tempe yang aktif beroperasi di wilayah tersebut. Secara akumulatif, total produksi tempe dari desa ini mampu mencapai 20 ton dalam sehari.

Angka produksi yang besar ini berbanding lurus dengan nilai transaksi ekonomi yang tercipta di tingkat desa.

“Potensi ekonomi di Desa Parerejo sangat luar biasa. Berdasarkan data lapangan, perputaran uang dari aktivitas produksi tempe ini bisa menembus angka Rp200 juta per hari,” ujar Sugiarto pada Senin (19/1/2026).

Ia menambahkan bahwa ketahanan ekonomi warga Parerejo teruji selama puluhan tahun karena mereka konsisten menjaga kualitas dan cita rasa gurih yang menjadi ciri khas tempe setempat.

http://Baca juga : Silaturahmi Kapolres Pasuruan Perkuat Sinergi Forkopimda Daerah

http://Kapolres Pasuruan Tegaskan Integritas di Personel Apel Perdana

Pemerintah kecamatan terus mendorong para pengrajin untuk memperluas jangkauan pasar melalui platform digital.

Harga yang ditawarkan pun tetap kompetitif, mulai dari Rp6.000 untuk paket mendoan hingga Rp70.000 per kilogram untuk keripik tempe kualitas premium.

Harga yang terjangkau namun memiliki kualitas rasa yang berkelas menjadi keunggulan utama produk Parerejo.

Dampak Sosial dan Keberlanjutan

Keberadaan Kampung Tempe memberikan dampak sosial yang nyata bagi stabilitas ekonomi perdesaan di Kabupaten Pasuruan.

Industri rumah tangga ini menyerap banyak tenaga kerja lokal dan menekan angka pengangguran di desa.

Kemandirian ekonomi yang terbangun membuat warga tidak hanya berperan sebagai buruh, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang berdaulat.

Secara jangka panjang, konsistensi Desa Parerejo dalam menjaga ekosistem industri tempe diharapkan menjadi model bagi desa-desa lain dalam mengembangkan potensi lokal.

Melalui kombinasi antara pelestarian budaya pangan dan inovasi produk, tempe Parerejo kini bukan sekadar makanan rakyat, melainkan simbol keberhasilan ekonomi kerakyatan yang berbasis kearifan lokal. (F4nd1)

F4