Malang, pojokkasus.com – Kasus bunuh diri pelajar di Kota Malang kembali terjadi pada Rabu (25/3/2026) dini hari di Apartemen Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru. Seorang pelajar ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 00.15 WIB setelah diduga jatuh dari lantai 11. Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran meningkatnya kasus bunuh diri pelajar Malang yang dinilai sebagai tanda darurat kesehatan mental.
Fenomena yang Kian Mengkhawatirkan
Lonjakan kasus bunuh diri mahasiswa Malang belakangan ini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Akademisi psikologi menilai fenomena tersebut bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari pola yang semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Fuji Puji Astutik, mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang ia lakukan bersama mahasiswa menunjukkan tingkat kerentanan yang cukup tinggi. Penelitian tersebut melibatkan sekitar 300 hingga 400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang.
“Mayoritas di atas rata-rata 50 persen berada pada kategori sedang hingga tinggi untuk kecenderungan ide bunuh diri. Dengan kondisi seperti itu, jelas permasalahannya tidak baik,” ujar Fuji, Kamis (26/3/2026).
Bukan Sekadar Tekanan Akademik
Fuji menegaskan, penyebab utama kasus bunuh diri mahasiswa Malang tidak bisa ditanggung hanya pada tekanan akademik seperti skripsi. Ia menilai permasalahan tersebut jauh lebih kompleks dan dihapuskan sejak lama.

Menurutnya, faktor-faktor seperti pengalaman masa kecil, pola asuh yang kurang tepat, hingga trauma akibat perundungan atau kekerasan dalam rumah tangga turut berkontribusi besar. Kondisi ini diperparah oleh minimalnya keterampilan siswa dalam mengelola masalah hidup.
“Banyak yang merasa sendirian dan tidak memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan. Akhirnya beban hidup terasa sangat berat,” jelasnya.
http://Baca juga Pos PMI Mudik Lebaran Mojokerto Kota Tangani 23 Kasus
https://www.facebook.com/pojok.kasuscom
Selain faktor internal, tekanan eksternal juga memainkan peran penting. Perbedaan cara pandang antar generasi membuat siswa saat ini memiliki standar keberhasilan yang jauh lebih tinggi.
Media sosial turut memperparah kondisi tersebut. Platform digital sering menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, sehingga memicu komunikasi sosial yang tidak sehat.
“Sekarang, mendapatkan nilai B saja bisa dianggap gagal karena standar sosial yang tinggi. Ini berbeda dengan generasi sebelumnya,” tambah Fuji.
Melihat kondisi ini, Fuji mendorong perguruan tinggi untuk mulai melakukan screening kesehatan mental sejak dini. Ia menilai pemetaan kondisi psikologis siswa baru jauh lebih penting daripada sekadar tes akademik.
Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan hadir melalui kebijakan konkret, seperti penyediaan layanan psikologi gratis atau terjangkau bagi pelajar.
“Langkah fisik saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah solusi yang menyentuh akar masalah, yaitu kondisi mental manusia,” tegasnya.
Peran Lingkungan dan Empati
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam pencegahan. Lingkungan yang mendukung dan penuh empati dapat menjadi faktor pelindung bagi individu yang mengalami tekanan mental.
Fuji mengingatkan bahwa tidak semua orang dengan depresi menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Terlebih lagi, mereka yang terlihat kuat bisa saja menyimpan beban berat.
“Sering kali mereka yang tampak membantu orang lain justru merasa tidak ada yang benar-benar memahami mereka,” tutupnya.
Meningkatnya kasus bunuh diri mahasiswa Malang menjadi sinyal kuat bahwa masalah kesehatan mental memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Mulai dari kampus, pemerintah, hingga masyarakat harus berkolaborasi menghadirkan solusi nyata agar tragedi serupa dapat dicegah. (Redaksi)






