Awan Panas Menyapu Lereng”: Kesaksian Warga Saat Saat Erupsi Semeru

Lumajang, pojokkasus.com — Dentuman keras yang terdengar seperti ledakan meriam memecah ketenangan Desa Supiturang, ketika Gunung Semeru kembali memuntahkan erupsi besar, pada Rabu sore (19/11/2025)

Dalam hitungan detik, langit yang semula cerah berubah menjadi gelap, dibungkus kolom abu tebal yang menjulang dari puncak gunung.

“Tanah sampai bergetar. Suaranya seperti pesawat jatuh dari langit, menggelegar terus-menerus,” ujar Suryadi (42), warga Dusun Kajar Kuning, yang saat itu sedang mengangkat padi di halaman rumah. Ia mengaku melihat kilatan merah di puncak Semeru sebelum awan besar menyebar cepat ke arah permukiman.

Dari kejauhan, aliran material panas terlihat menyapu lembah seperti kain abu-abu raksasa yang digulung paksa angin. Warga yang berada di dekat jalur luncuran menggambarkan awan itu bergerak senyap namun menghancurkan.

“Awan panasnya turun cepat sekali, tidak ada bunyi, hanya mendesis. Asapnya tebal sampai mata perih. Kami lari tanpa sempat mengambil barang apa pun,” kata Siti Rahmah (34), yang dievakuasi bersama dua anaknya.

Di jalan poros desa, puluhan warga tampak berlarian sambil menutup wajah dengan kain basah karena abu mulai jatuh seperti “hujan pasir panas”. Motor-motor mengular memenuhi jalan, lampu menyala di tengah gelap yang mendadak turun akibat debu vulkanik.

Ashar, seorang relawan yang berada di pos pantau darurat, menggambarkan situasi sebagai “kekacauan yang sunyi”.

“Yang terdengar hanya batuk, teriakan saling memanggil, dan langkah orang-orang yang berusaha menjauh dari lembah. Abu sudah setebal jari dalam waktu kurang dari lima menit,” tuturnya. Kamis. (20/11/2025)

Saat tim penyelamat datang, bau belerang yang menyengat membuat proses evakuasi makin sulit. Lampu senter menembus pekatnya abu yang beterbangan, sementara sebagian warga masih terhuyung-huyung mencari keluarga mereka.

Ketika kondisi mulai mereda, beberapa penduduk kembali menatap ke arah puncak Semeru yang masih menghembuskan asap. Di kejauhan, gunung itu terlihat

Kami sudah sering melihat semeru batuk, tapi yang ini terasa berbeda, lebih besar, lebih dekat, lebih panas,,”Ujar Suryadi sambil menatap ke arah  rumahnya yang kini tertutup abu, (red)