Pasuruan, pojokkasus.com – Cuaca ekstrem picu longsor di Kabupaten Pasuruan dalam beberapa hari terakhir rangkaian bencana tanah longsor di sejumlah kecamatan di kabupaten Pasuruan.
Hujan deras berintensitas tinggi yang turun hampir tanpa jeda, disertai angin kencang, menyebabkan beberapa rumah warga mengalami kerusakan serius, bahkan ambruk di bagian tertentu. Meski menimbulkan kerugian material, seluruh kejadian tersebut tidak menelan korban jiwa.
Fenomena hidrometeorologi ini menjadi peringatan nyata bagi wilayah dengan kontur tanah labil dan lereng perbukitan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan mencatat, intensitas hujan yang tinggi dalam waktu lama membuat daya ikat tanah melemah dan memicu pergerakan tanah secara tiba-tiba.
Rumah Warga Lumbang Ambruk
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pasuruan, salah satu kejadian terparah terjadi di Kecamatan Lumbang. Sebuah rumah milik Mansur, warga RT 10 RW 3 Dusun Sidorukun, Desa Panditan, mengalami kerusakan berat setelah bagian belakang bangunan ambruk pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Saat peristiwa terjadi, pemilik rumah berada di dalam bangunan. Beruntung, bagian yang roboh berada di sisi belakang rumah sehingga tidak menimbulkan korban luka. Struktur yang rusak meliputi atap serta tembok belakang yang tidak mampu menahan tekanan tanah akibat gerusan air hujan yang terus mengalir.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menjelaskan bahwa kondisi geografis rumah yang berada tepat di dekat perbukitan menjadi faktor utama terjadinya longsor. Curah hujan tinggi dalam durasi panjang membuat tanah menjadi jenuh air dan kehilangan kestabilannya.
“Kebetulan posisi belakang rumah berupa perbukitan. Tanah ambrol karena gerusan air hujan yang sangat lebat, ditambah angin kencang,” ujar Sugeng saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Minggu (18/1/2026) sore.
Maut Perlintasan Kereta Api, Misteri Nyawa Melayang
Tragedi Pembacokan Wonokusumo Guncang Warga Surabaya Utara
Legenda Arema Kuncoro Tutup Usia di Gajayana
http://Baca juga : Pertemuan Tahunan AWOS Perkuat Konsolidasi DPC Pasuruan Raya
Longsor Juga Terjadi di Tutur
Cuaca ekstrem tidak hanya berdampak di Kecamatan Lumbang. Di Kecamatan Tutur, pergerakan tanah juga menyebabkan kerusakan bangunan. Sebuah kamar mandi di dalam rumah milik Sri Rahayu, warga Dusun Ledok Kepor, Desa Ngadirejo, rusak akibat longsoran tanah yang terjadi pada Sabtu sore.
Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Namun, kerusakan bangunan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari penghuni rumah. BPBD mencatat, lokasi tersebut termasuk kawasan rawan longsor yang setiap musim hujan memerlukan pengawasan ekstra.
Sugeng menegaskan bahwa pihaknya terus memantau wilayah dengan kontur tanah miring dan lereng pegunungan, khususnya di kawasan Tengger dan sekitarnya, yang berpotensi mengalami bencana serupa.
Kerusakan Rumah di Purwosari
Bencana longsor juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Purwosari. Bagian belakang rumah milik Sodikin, warga RT 3 RW 4 Dusun Krajan, Desa Karangrejo, ambruk dan mengalami kerusakan cukup parah. Area dapur menjadi bagian yang paling terdampak akibat pergerakan tanah dari belakang rumah.
BPBD bersama pemerintah desa setempat telah melakukan pendataan awal untuk memastikan kebutuhan darurat warga terdampak. Langkah ini dilakukan sekaligus untuk mengantisipasi potensi longsor susulan apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Imbauan BPBD dan Dampak Sosial
Menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi berlanjut, BPBD Kabupaten Pasuruan mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Terutama bagi warga yang tinggal di lereng perbukitan, bantaran sungai, dan daerah rawan longsor.
“Warga di lereng pegunungan harus lebih berhati-hati dan senantiasa waspada saat hujan deras disertai angin kencang seperti sekarang,” tegas Sugeng.
Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi tidak hanya merusak hunian, tetapi juga berdampak pada rasa aman masyarakat. Sinergi antara pemerintah, relawan, dan warga menjadi kunci penting dalam meminimalkan risiko serta mempercepat pemulihan pascabencana, sekaligus memperkuat budaya siaga bencana di Kabupaten Pasuruan. (G10/Nit)





