Pasuruan, pojokkasus.com – Bukan Sekadar Dzikir, Manaqib Dzikrul Ghofilin menghadirkan jamaah Gempol Pasuruan dalam jumlah besar untuk mengikuti doa Mbah Yai Soleh di Lapangan Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Minggu (26/7/2026). Sekitar 30 ribu masyarakat hadir mengikuti dzikir, manaqib, dan doa bersama demi keselamatan serta keberkahan seluruh warga.
Sejak matahari mulai menyinari wilayah Gempol, ribuan jamaah telah berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka memenuhi area lapangan dengan membawa satu tujuan, yakni memperkuat hubungan spiritual melalui lantunan dzikir dan doa yang dipimpin ulama kharismatik Pasuruan.
Romo KH. M. Sholeh Bahruddin atau yang dikenal sebagai Mbah Yai Soleh Sengon memimpin langsung rangkaian kegiatan tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah Sengonagung, Purwosari itu mengajak masyarakat meneladani kehidupan para wali dan menjaga hati agar selalu dekat dengan Allah SWT.
Dzikrul Ghofilin, Pengingat Agar Hati Tidak Lalai
Dzikrul Ghofilin memiliki sejarah panjang dalam tradisi keagamaan masyarakat Jawa Timur. Amalan ini berawal sekitar tahun 1960 dari gagasan tiga ulama besar, yakni Gus Miek, KH. Hamid Pasuruan, dan KH. Ahmad Shiddiq.
Sebelum dikenal luas sebagai Dzikrul Ghofilin, kegiatan tersebut berawal dari Aurot Lailiyah atau dzikir malam yang dirintis Gus Miek. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi amalan yang mengajak umat untuk selalu mengingat Allah SWT.
Tausiah Hanan Attaki dan Satu Dekade Ummi Peduli Sidoarjo Di Barengi Ratusan Doa Jamaah
Koperasi Sidoarjo Bangkit, Subandi Dorong Ekonomi Rakyat Semakin Kuat
Dalam kegiatan di Lapangan Bulusari, jamaah mengikuti berbagai rangkaian ibadah mulai membaca Manaqib, istighfar, tahlil, shalawat hingga doa bersama. Suasana penuh haru terasa ketika puluhan ribu jamaah larut dalam munajat.
Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Samsul Hidayat, S.Ag., M.Pd.I., yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang menjaga kegiatan berjalan aman dan tertib.
Menurut Samsul, tingginya kehadiran masyarakat menjadi bukti bahwa nilai agama, persaudaraan, dan kebersamaan masih menjadi kekuatan utama dalam kehidupan sosial masyarakat Pasuruan.
“Pelaksanaan Manaqib dan Dzikrul Ghofilin berlangsung penuh kekhusyukan. Kurang lebih 30 ribu jamaah hadir mengikuti kegiatan ini,” ungkap Samsul.
Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang kemajuan fisik, tetapi juga membutuhkan pembangunan karakter, moral, dan spiritual masyarakat agar kehidupan semakin harmonis.
Camat Gempol Hadi Mulyono ikut menyampaikan rasa terima kasih melihat antusiasme warga. Menurutnya, kegiatan keagamaan tersebut menjadi energi positif untuk memperkuat kerukunan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat.
Manaqib Dzikrul Ghofilin di Gempol bukan hanya menjadi kegiatan ibadah, tetapi juga menjadi simbol persatuan masyarakat Pasuruan. Puluhan ribu jamaah yang berkumpul dalam doa bersama menunjukkan bahwa kekuatan spiritual dan kebersamaan masih menjadi landasan penting dalam membangun daerah yang aman, damai, dan penuh keberkahan. (D2Y,Syf













