SIDOARJO, pojokkasus.com – Strategi Pemkab Sidoarjo dalam menekan risiko penularan HIV melalui Youth Safeguard 2026 menjadi bagian penting Dinas Kesehatan yang mencatat 60 kasus HIV pada kelompok usia 11–17 tahun sejak 2001 hingga Juni 2026, dengan tujuh orang meninggal dunia dan 53 lainnya masih hidup dengan HIV. Merespons kondisi tersebut, edukasi kepada pelajar SMA dan SMK diperkuat melalui kegiatan Sidoarjo Youth Safeguard 2026 di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Umsida, Rabu (5/8/2026).
Program tersebut digelar Pemkab Sidoarjo melalui Dinas Kesehatan bersama Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Para pelajar mendapatkan pembekalan mengenai HIV, pengenalan diri, pencegahan perilaku berisiko, serta pentingnya membangun sikap yang tidak diskriminatif terhadap orang dengan HIV.
Langkah ini menunjukkan bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah terdeteksi, tetapi dimulai dari peningkatan pengetahuan masyarakat sejak usia sekolah.
Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina menjelaskan, pengendalian HIV membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar menemukan kasus melalui skrining. Edukasi menjadi instrumen penting agar remaja memahami bagaimana menjaga kesehatan dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Informasi yang tepat juga diperlukan agar masyarakat tidak mudah percaya pada mitos yang dapat memicu ketakutan maupun stigma terhadap ODHIV.
Menurut Dinkes Sidoarjo, temuan 60 kasus pada kelompok usia 11–17 tahun perlu dibaca secara proporsional. Pemerintah tidak ingin angka tersebut menimbulkan kepanikan. Justru, semakin banyak kasus yang terdeteksi melalui layanan kesehatan dapat menunjukkan bahwa jangkauan skrining semakin luas. Deteksi lebih awal memberi peluang lebih besar bagi orang yang terinfeksi untuk segera memperoleh pengobatan dan layanan kesehatan yang diperlukan.

http://Baca juga PORSENAP Lapas Sidoarjo Resmi Dibuka, Sportivitas Warga Binaan Menggelora
Makna 151 Kupon BBM Gratis Pemuda Pancasila Sidoarjo, Warga Sumringah.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa karakteristik penularan berbeda berdasarkan kelompok usia. Pada kelompok usia di atas 24 tahun, temuan HIV masih banyak berkaitan dengan perilaku berisiko. Sementara kelompok usia 0–10 tahun umumnya berkaitan dengan penularan vertikal dari ibu kepada anak. Kondisi itu mendorong Dinkes memperkuat pemeriksaan berdasarkan siklus hidup, sehingga pencegahan dapat dilakukan sejak sebelum kelahiran hingga tahap kehidupan berikutnya.
Salah satu langkah yang diperkuat adalah pemeriksaan ibu hamil melalui program triple eliminasi HIV, sifilis, dan hepatitis B. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah penularan dari ibu kepada bayi. Deteksi dini juga dilakukan pada bayi sehingga tenaga kesehatan dapat mengambil langkah penanganan sesuai kondisi. Strategi ini menempatkan pencegahan sebagai proses berkelanjutan, bukan tindakan sesaat setelah kasus ditemukan.
Dinkes Sidoarjo menekankan sejumlah fakta penting tentang HIV :
- HIV tidak menular melalui berjabat tangan.
- HIV tidak menular karena berpelukan atau belajar bersama.
- Berbagi makanan dan menggunakan toilet yang sama bukan jalur penularan.
- Gigitan nyamuk bukan penyebab penularan HIV.
Risiko penularan berkaitan dengan jalur tertentu yang dapat dicegah melalui perilaku sehat dan layanan medis yang tepat.
Di sisi lain, edukasi kepada remaja tidak berhenti pada pengetahuan tentang HIV. Psikolog Pendidikan dan Keluarga Widji Lestari menilai karakter dan rasa percaya diri juga menjadi perlindungan penting.
Remaja perlu memiliki keberanian untuk menolak ajakan yang dapat membawa mereka pada perilaku berisiko. Keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki peran besar dalam membangun kemampuan tersebut agar anak muda mampu membuat keputusan secara bertanggung jawab.
Sidoarjo Youth Safeguard 2026 menjadi salah satu upaya mempertemukan edukasi kesehatan dengan penguatan karakter generasi muda. Data kasus menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan, sedangkan edukasi dan skrining menjadi instrumen pencegahan.
Pengendalian HIV di Sidoarjo membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar deteksi dini berjalan, informasi yang salah dapat diluruskan, dan stigma terhadap ODHIV dapat ditekan. (Tim)













