Tingkat Kemiskinan Sidoarjo 4,38% Terendah Se-Jawa Timur. Turun 28.330 Jiwa Dalam 10 Tahun

SIDOARJO, pojokkasus.com – Tingkat kemiskinan Sidoarjo resmi tercatat sebesar 4,38 persen pada Maret 2026 — menjadikan kabupaten ini terendah se-Jawa Timur, di bawah rata-rata provinsi yang menyentuh 9,06 persen. Data dirilis Kepala BPS Sidoarjo Bagyo Trilaksono, Rabu (21/10/2026) di Pendopo Delta Wibawa. Capaian ini diraih berkat penurunan berkelanjutan selama sepuluh tahun terakhir.

Secara urutan kabupaten, posisi terendah berikutnya diisi Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, dan Pasuruan. Sementara jika digabungkan dengan kota, Sidoarjo berada di peringkat kelima terendah secara keseluruhan, setelah Kota Batu, Madiun, Surabaya, dan Malang.

Dalam sepuluh tahun, kemiskinan di Sidoarjo menurun konsisten. Pada Maret 2016, persentasenya masih 6,39 persen dengan 136.790 jiwa penduduk miskin. Angka itu kini turun menjadi 4,38 persen atau 108.460 jiwa. Artinya, ada penurunan 28.330 jiwa dalam satu dekade.

Meski persentase turun, jumlah penduduk miskin justru naik tipis dari 107.570 jiwa (Maret 2025) menjadi 108.460 jiwa. Bagyo menjelaskan: penyebab utamanya adalah laju pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan laju penurunan persentase kemiskinan.

Tingkat Kemiskinan Sidoarjo 4,38%
Bupati Subandi jelaskan langkah pertahankan capaian — mulai dari RTLH, sembako, Makan Bergizi Gratis, hingga rencana kenaikan gaji PPPK paruh waktu yang di bawah garis kemiskinan.

Poin penting dari data BPS :

  • Persentase: 4,40% → 4,38% (turun 0,02 poin)
  •  Jumlah jiwa: 107.570 → 108.460 (naik 890 jiwa)
  • Garis kemiskinan rumah tangga: Rp2.831.074/bulan
  • Rata-rata Jawa Timur: 9,06% — Sidoarjo jauh di bawahnya

Baca juga

Proyek Selter PIER Pasuruan Memanas, Humas Turun Tangan

Bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn., menyambut baik capaian ini namun menegaskan tidak boleh berpuas diri. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah diminta memperkuat koordinasi agar program penanggulangan kemiskinan benar-benar menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Penanganan kemiskinan bukan urusan satu pihak. Eksekutif dan legislatif harus berjalan beriringan. Program yang sudah menjadi visi misi harus terasa manfaatnya di tengah masyarakat,” tegas Subandi.

Berbagai intervensi telah dan akan terus diperkuat, antara lain :

  • Perbaikan rumah tidak layak huni (bersama Baznas & dukungan ASN)
  • Bantuan kursi roda bagi warga penyandang disabilitas
  • Penyaluran sembako dan program Makan Bergizi Gratis (MBG)
  • Penguatan program sembako murah, terutama menjelang hari besar keagamaan

Hot news

Polres Pasuruan & Bhayangkari Peluk Warga Terdampak Kekeringan

Satu terobosan penting: tahun depan, gaji PPPK paruh waktu direncanakan naik. Langkah ini diambil setelah data BPS menunjukkan garis kemiskinan rumah tangga mencapai Rp2.831.074 per bulan — sementara saat ini, penghasilan mereka masih di bawah angka tersebut.

“Kesejahteraan pegawai juga bagian dari strategi. Jika mereka sejahtera, pelayanan makin baik. Saya akan bahas detailnya dengan Sekda, insya Allah realisasi tahun depan,” janji Subandi.

Sidoarjo telah membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan dengan penurunan kemiskinan. Menjadi yang terendah se-Jawa Timur bukan garis finis, melainkan titik awal untuk terus memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Konsistensi, sinergi, dan intervensi tepat sasaran adalah kunci agar capaian ini tidak meleset di tahun-tahun mendatang.

(Akbar / Tim Kominfo Sidoarjo)

IMG-20260327-WA0038