PASURUAN, pojokkasus.com – Kirab budaya Randupitu kembali menjadi perhatian setelah ratusan warga dari Dusun Randupitu, Gesing, dan Babat membaur dalam perayaan tradisi tahunan di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan yang digelar dengan tema “Kirab Ancak: Babat Alas Randupitu, Raden Singowongso Mindha Pendopo” tersebut dimulai dari Balai Desa Randupitu dan berakhir di Lapangan Desa Randupitu.
Sejak kegiatan berlangsung, suasana di lingkungan desa berubah menjadi lebih semarak. Warga memenuhi sejumlah titik untuk mengikuti sekaligus menyaksikan rangkaian kirab. Perpaduan tradisi budaya, nilai religi, dan hiburan rakyat membuat kegiatan tersebut menjadi momentum yang dinantikan masyarakat.
Keterlibatan tiga dusun menjadi salah satu daya tarik utama. Warga tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi membangun suasana kebersamaan dalam satu kegiatan. Interaksi tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi lokal masih dapat menjadi magnet untuk mempertemukan masyarakat dalam jumlah besar.
Kirab Ancak tidak hanya menyajikan hiburan bagi masyarakat. Tema yang diangkat juga membawa pesan sejarah mengenai Babat Alas Randupitu dan sosok leluhur yang disebut dalam tradisi setempat, Raden Singowongso.
Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, mengungkapkan kebanggaannya melihat antusiasme masyarakat. Ia menyebut pelaksanaan Kirab Ancak sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga sejarah leluhur.

“Kirab Ancak ‘Babat Alas Randupitu’ ini bukan sekadar hiburan atau bagi-bagi hadiah, melainkan wujud syukur kami kepada Allah SWT sekaligus upaya merawat sejarah leluhur kami, Raden Singowongso,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan budaya tidak hanya berorientasi pada kemeriahan. Ada pesan yang ingin diteruskan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap mengenal sejarah dan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
Fuad juga menyoroti kebersamaan warga dari tiga dusun. Menurutnya, masyarakat yang membaur dalam satu kegiatan menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kerukunan masih terjaga.
Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam keberlangsungan kegiatan desa. Ketika masyarakat terlibat, tradisi tidak hanya menjadi agenda pemerintah desa atau panitia, tetapi berkembang menjadi kegiatan bersama yang memiliki nilai sosial.
Fuad berharap kegiatan tersebut dapat membawa keberkahan bagi Desa Randupitu. Ia juga ingin generasi muda tetap mengenal akar budaya dan sejarah leluhur mereka meskipun menghadapi perubahan zaman.
Silaturahmi Warga Kedanten Jadi Momentum Perkuat Kekompakan
Kemasan acara juga dibuat semakin menarik dengan kehadiran berbagai hadiah bagi peserta. Sepeda listrik menjadi hadiah utama yang menarik perhatian masyarakat.
Panitia juga menyiapkan puluhan alat elektronik rumah tangga. Daftar hadiah yang disiapkan mencakup televisi, kulkas, magic com, blender, hingga kipas angin.
Hadiah tersebut menjadi pelengkap kemeriahan kegiatan. Masyarakat mendapatkan hiburan sekaligus kesempatan membawa pulang hadiah. Namun, nilai utama Kirab Ancak tetap terletak pada upaya menjaga tradisi dan mempertemukan masyarakat dari berbagai wilayah dusun.
Kegiatan yang berlangsung dari titik start Balai Desa Randupitu hingga Lapangan Desa Randupitu tersebut akhirnya menjadi momentum kebersamaan masyarakat.Tradisi lokal tampil bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mampu mempertemukan warga pada masa kini.
Kirab Ancak Randupitu memperlihatkan kuatnya hubungan antara tradisi, sejarah, religi, dan kehidupan masyarakat. Ratusan warga dari tiga dusun yang membaur menjadi satu menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat. Tantangannya kini adalah bagaimana tradisi tersebut terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas Desa Randupitu.(D2Y/RED)