Wayang Kulit Kepulungan Ungkap Sejarah Wong Kepulungan, Museum Desa Jadi Harapan

PASURUAN, POJOKKASUS.COM – Pemerintah Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, menggelar pagelaran wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional, Sabtu (7/11/2026) malam. Bertempat di kawasan Wisata Air Panas Wong Kepulungan, pertunjukan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut menjadi momentum pelestarian seni tradisional sekaligus pengenalan sejarah desa kepada generasi muda.

Kegiatan yang terselenggara melalui kerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) itu menghadirkan dalang Ki Yanti Wadeng asal Pasuruan. Ia membawakan lakon Wahyu Tirto Sewindu di hadapan ratusan warga dan undangan yang memadati lokasi pertunjukan.

Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pasuruan Adinda Denisa, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Gempol, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Kepala Desa Kepulungan, Didik Hartono, mengatakan pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana mengenalkan warisan sejarah dan budaya leluhur kepada generasi penerus.

Empat Sindikat Curanmor Bermotif Nyeleneh Di Bongkar Polresta Sidoarjo

Menurut Didik, Desa Kepulungan memiliki perjalanan sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan pemerintahan Kabupaten Pasuruan sejak abad ke-17. Sejarah kawasan tersebut juga tidak terlepas dari sosok Ki Gede Temenggung Kepulungan yang dikenal masyarakat dengan sebutan Wong Kepulungan.

“Kepulungan memiliki kekayaan sejarah dan peninggalan budaya yang luar biasa,” kata Didik di sela-sela kegiatan.

Ia menjelaskan, sejumlah benda yang diduga memiliki nilai arkeologis pernah ditemukan di wilayah Kepulungan. Di antaranya sarkofagus dari masa megalitikum dan sejumlah artefak kuno yang menjadi bagian penting dari jejak peradaban masa lalu.

Potensi sejarah tersebut berpadu dengan keberadaan sumber air panas alami yang kini menjadi salah satu daya tarik kawasan wisata Wong Kepulungan. Pemerintah desa berharap kekayaan sejarah, budaya, dan potensi alam tersebut dapat dikembangkan secara terpadu untuk mendukung identitas serta kemajuan desa wisata.

Pagelaran wayang kulit di Kepulungan mengangkat sejarah Wong Kepulungan. Pemdes mendorong pembangunan museum untuk melestarikan artefak dan budaya lokal.

Breaking news:

Aksi Kemanusiaan PT Mega Surya Eratama Menginspirasi Dunia Industri

Di tengah upaya memperkenalkan sejarah lokal, Didik juga menyampaikan harapan agar Pemerintah Kabupaten Pasuruan memberikan perhatian terhadap pelestarian benda-benda peninggalan sejarah di Kepulungan.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pembangunan museum desa sebagai tempat penyimpanan, perawatan, sekaligus pusat edukasi sejarah bagi masyarakat.

“Harapan kami, ke depan ada museum yang bisa menjadi pusat edukasi sejarah, khususnya didesa kepulungan” ujar Didik.

Menurutnya, keberadaan museum akan memberikan ruang penyimpanan yang lebih layak bagi benda-benda bersejarah. Selain menjaga peninggalan leluhur agar tidak hilang atau rusak, museum juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi pelajar, peneliti, wisatawan, dan masyarakat umum.

Gagasan tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya di Desa Kepulungan.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pasuruan, Adinda Denisa, mengapresiasi penyelenggaraan pagelaran wayang kulit yang mengangkat kesenian tradisional sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah daerah.

Ia menyambut positif gagasan pembangunan museum desa. Namun, menurutnya, upaya pelestarian dapat dimulai melalui langkah bertahap, salah satunya dengan menyelenggarakan pameran budaya temporer untuk memperkenalkan artefak dan peninggalan sejarah kepada masyarakat.

Budaya dan Pemerintahan.

“Wilayah Gempol, khususnya Kepulungan, memiliki banyak nilai sejarah dan potensi yang luar biasa,” tutur Adinda.

Adinda juga mengajak generasi muda untuk ikut mempromosikan potensi sejarah, budaya, dan wisata daerah melalui berbagai platform media sosial. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sarana memperluas pengenalan kekayaan lokal kepada masyarakat di luar Kabupaten Pasuruan.

Ia menegaskan, menjaga identitas bangsa tidak cukup hanya dengan mengenang perjuangan para pendahulu. Generasi sekarang juga memiliki tanggung jawab merawat warisan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan bangsa.

“Sekarang tugas kita adalah mengisi dan menjaga kemerdekaan, salah satunya dengan mencintai serta melestarikan budaya,” tegasnya.

Selain itu, Adinda meminta para pemangku kebijakan memberikan ruang apresiasi dan kesempatan yang lebih luas bagi pelaku industri kreatif serta seniman lokal di Kabupaten Pasuruan agar seni tradisional tetap hidup dan berkembang.

Pagelaran wayang kulit di Desa Kepulungan tersebut menjadi pengingat bahwa warisan sejarah dan budaya bukan sekadar cerita masa lalu. Pelestariannya membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan generasi muda agar identitas lokal tetap terjaga sekaligus dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

(D2Y/RED)

IMG-20260327-WA0038