Sidoarjo,Pojokkasus.com 26 September 2026 – Festival Gamelan Kahuripan di Sidoarjo kembali mencuri perhatian setelah jumlah peserta meningkat menjadi 33 grup, naik 10 grup dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui festival yang digelar Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) itu mendorong generasi muda mengenal, memainkan, dan melestarikan gamelan serta tembang sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
Peningkatan peserta tersebut menjadi sinyal bahwa minat pelajar terhadap seni tradisional masih tumbuh di tengah derasnya pengaruh budaya modern.
Tahun ini, peserta Festival Gamelan Kahuripan berasal dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
Festival yang memasuki tahun keempat ini digelar di Pendopo Delta Wibawa, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan mengusung tema “Gamelan untuk Meditasi: Eksplorasi Pendengaran melalui Membunyikan Gamelan Jawa”.
Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo Ribut Wijoto mengatakan peningkatan jumlah peserta menunjukkan ketertarikan generasi muda terhadap gamelan semakin berkembang.

“Alhamdulillah pada tahun keempat ini peserta yang ikut lebih banyak. Artinya, minat generasi muda akan kesenian gamelan ini juga meningkat,” ujar Ribut.
Menurutnya, festival bukan sekadar panggung untuk menunjukkan kemampuan bermusik.
Para pelajar juga mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi gamelan sebagai pengalaman belajar seni dan budaya.
Ribut menegaskan, gamelan memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
Bahkan, dalam sejarah perkembangan Islam di Tanah Jawa, gamelan turut digunakan Walisongo sebagai salah satu media pendekatan dakwah kepada masyarakat.
“Gamelan bukan hanya bagian dari kebudayaan kita, tetapi juga bagian dari kebudayaan dunia dan memiliki kontribusi terhadap peradaban dunia,” katanya.
Bakal Calon Perangkat Desa Kepulungan Lolos Seleksi Administrasi
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Ridho Prasetyo mengatakan Festival Gamelan Kahuripan menjadi ruang pertemuan seni, pendidikan, masyarakat, dan generasi muda.
“Festival Gamelan Kahuripan ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni semata, tetapi juga ajang mempertemukan seni, pendidikan, masyarakat, dan generasi muda dalam satu semangat agar kesenian tetap hidup, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan,” ujar Ridho yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo Subandi.
Menurut Ridho, proses bermain gamelan mengajarkan kebersamaan, kerukunan, disiplin, kepekaan mendengar, serta kemampuan menjaga harmoni. Nilai tersebut dinilai penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengenalkan budaya lokal kepada anak-anak sejak dini.
“Jangan sampai anak-anak kita mengenal budaya luar, namun tidak mengenal budaya Kabupaten Sidoarjo sendiri,” tegasnya.
Pemkab Sidoarjo mendorong agar pelestarian gamelan tidak berhenti pada kegiatan festival.
Pemerintah ingin seni tradisional tersebut terus berkembang dan melahirkan karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Jadikan gamelan sebagai sumber pelestarian dan lahirnya karya-karya baru. Mari kita maknai festival ini sebagai ikhtiar membangun generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan memiliki akar budaya yang kuat,” ujar Ridho.
Dengan bertambahnya peserta, Festival Gamelan Kahuripan menunjukkan bahwa pelestarian budaya masih memiliki ruang kuat di kalangan pelajar.
Tantangannya kini bukan hanya mempertahankan gamelan sebagai warisan, tetapi memastikan generasi muda terus memainkan, memahami, dan mengembangkannya.
Pemerintah berharap festival tersebut dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni daerah sekaligus memastikan gamelan tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.@Nit



















