Pasuruan, pojokkasus.com – Sejarah Dusun Keboireng di Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasurua hingga kini masih hidup dalam cerita tutur masyarakat. Salah satu kisah yang paling dikenal menceritakan pelarian seorang prajurit tangguh Kerajaan Singosari yang berjuluk Kebo Ireng setelah dianggap melanggar aturan kerajaan.
Cerita tersebut kembali disampaikan Kepala Desa Ngerong saat berbincang santai bersama awak media, Minggu (12/7/2026). Menurutnya, legenda itu telah diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh dan menjadi asal-usul penamaan Dusun Keboireng.
Dalam cerita rakyat yang berkembang, Kebo Ireng dikenal sebagai prajurit andal yang kedudukannya disamakan dengan seorang senopati. Namun, karena melakukan pelanggaran terhadap aturan Kerajaan Singosari, ia dijatuhi hukuman.
Sebelum hukuman dijalankan, Kebo Ireng memilih melarikan diri dari kerajaan. Pelariannya membawanya hingga ke wilayah Jawi. Di tempat itu ia bertemu seorang perempuan cantik yang ingin dijadikan istrinya. Akan tetapi, perempuan tersebut tidak bersedia sehingga dibawa paksa oleh Kebo Ireng menuju wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Keboireng.
Sesampainya di kawasan tersebut, Kebo Ireng bertemu dengan seorang tokoh yang dikenal masyarakat sebagai KH Sayyid Abdullah. Melihat perempuan itu berada dalam kondisi dipaksa, Sayyid Abdullah kemudian memberikan perlindungan.
Keputusan tersebut memicu pertarungan

http://Baca juga Dugaan Surat Panggilan Dihapus! Bupati Gowa Dilaporkan ke Polda Sulsel
https://www.facebook.com/pojok.kasuscom
https://www.tiktok.com/@pojokkasus.com?_r=1&_t=ZS-97xmHydGI8g
Keputusan tersebut memicu pertarungan antara Kebo Ireng dan Sayyid Abdullah. Di tengah peristiwa itu, perempuan yang menjadi rebutan berhasil melarikan diri menuju wilayah yang kini menjadi Dusun Genukwatu, Desa Kepulungan.
Menurut penuturan yang berkembang di masyarakat, Kebo Ireng terus mengejar perempuan tersebut hingga ke Dusun Genukwatu. Namun, perempuan itu akhirnya meninggal dunia sebelum berhasil ditangkap.
Sebelum meninggalkan lokasi, Kebo Ireng disebut menyampaikan sebuah pesan yang kemudian menjadi bagian dari cerita rakyat setempat. Pesan itu berbunyi, “Jika di dusun Keboireng, cukul perempuan cantik yang dipinang tidak akan memiliki umur panjang”.
Kepercayaan tersebut hingga kini masih dikenal sebagai bagian dari legenda masyarakat, meski tidak dapat dibuktikan secara historis.
Setelah mengetahui perempuan yang dikejarnya telah meninggal, Kebo Ireng kembali menuju tempat persembunyiannya. Keberadaan Kebo Ireng akhirnya diketahui oleh pasukan Kerajaan Singosari. Prajurit kerajaan kemudian melakukan penyergapan di lokasi persembunyiannya. Namun Kebo Ireng memberikan perlawanan sengit sehingga terjadi pertempuran besar antara dirinya dan pasukan Singosari.
Masyarakat setempat meyakini lokasi pertempuran tersebut kemudian dikenal sebagai Dusun Keboireng dan nama itu bertahan hingga sekarang.
Meski belum terdapat bukti sejarah tertulis yang menguatkan kisah tersebut, cerita ini tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Ngerong kecamatan Gempol dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam cerita yang sama, Kebo Ireng akhirnya melarikan diri menuju Dusun Selokambang, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji. Saat terdesak oleh pasukan Singosari, ia memilih terjun ke sebuah sendang yang cukup dalam.
Para prajurit kerajaan menunggu di tepi sendang selama berhari-hari dengan harapan tubuh Kebo Ireng akan muncul ke permukaan. Namun yang terlihat justru sebuah batu yang mengapung atau tampak muncul di atas air.
Peristiwa itu kemudian diyakini menjadi asal-usul nama Selokambang atau Watu Kambang.
“Seng mentas dudu awake Keboireng, tapi watune seng kambang-kambang. Akhire dijenengno Selo Kambang,” ujar Kepala Desa Ngerong saat berbincang dengan awak media, Minggu (12/7/2026).
Hingga kini, legenda Kebo Ireng masih menjadi bagian dari kekayaan tradisi lisan di wilayah Kecamatan Gempol. Terlepas dari belum adanya pembuktian melalui kajian sejarah maupun arkeologi, kisah tersebut terus dijaga sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas lokal sekaligus menjadi pengingat pentingnya pelestarian sejarah dan cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. (Syafi’i/Akbar).







