SIDOARJO, pojokkasus.com – Pasar jago jadi wajah baru digitalisasi pembayaran pasar di Kabupaten Sidoarjo setelah program Pasar Sidoarjo Jaringan Go-Digital resmi diperkuat dalam HLM TP2DD di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (13/8/2026). Pemkab Sidoarjo mendorong sistem tersebut untuk membuat pembayaran retribusi lebih praktis, tercatat, transparan, sekaligus mendukung optimalisasi PAD.
Program tersebut bukan sekadar pergantian metode pembayaran dari tunai ke digital. Pemerintah daerah ingin membangun sistem penerimaan yang memiliki jejak transaksi lebih jelas sehingga proses pemantauan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Langkah itu menjadi bagian dari agenda transformasi pelayanan publik di lingkungan Pemkab Sidoarjo.
Plt Kepala BPPD Kabupaten Sidoarjo Yudhi Iriyanto menyebut penerapan MyRetribusi mulai digenjot sejak Mei 2026. Dari total 19 pasar daerah yang menjadi sasaran, 12 pasar telah menggunakan sistem tersebut. Dalam beberapa bulan, jumlah transaksi meningkat tajam dan menunjukkan adanya perubahan kebiasaan pembayaran di kalangan pedagang.
Berdasarkan dashboard MyRetribusi, sebanyak 26.093 transaksi telah tercatat hingga pertengahan Agustus 2026. Pada fase awal penerapan, transaksi baru berada di angka 2.109. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan sistem digital mulai diterima di lapangan, meski perluasan penerapan masih harus dilakukan ke pasar lainnya.
http://Simak juga Kades Pejangkungan Prioritaskan Lapangan Kerja untuk Warganya
http://Baca juga Mimik Idayana Pimpin Ziarah Pahlawan Di Hari Pramuka ke-65

Catatan penting dari perkembangan PASAR JAGO :
- 12 dari 19 pasar sudah menggunakan MyRetribusi.
- Transaksi mencapai 26.093 hingga pertengahan Agustus.
- Penerimaan rata-rata naik dari Rp1,15 miliar menjadi Rp1,42 miliar per bulan.
- Peningkatan penerimaan mencapai sekitar 23,7 persen.
- Porsi pembayaran digital naik dari 2,7 persen menjadi 33,4 persen.
- Penerapan penuh ditargetkan mulai 2027.
Menurut Yudhi, digitalisasi memberikan dampak langsung terhadap pencatatan penerimaan. Rata-rata mutasi rekening pasar pada Januari-April 2026 tercatat sekitar Rp1,15 miliar per bulan. Setelah penerapan MyRetribusi pada Mei-Juli, angka rata-rata tersebut meningkat menjadi sekitar Rp1,42 miliar per bulan atau tumbuh 23,7 persen.
Pemkab Sidoarjo juga melihat peluang efisiensi dari perubahan tersebut. Mulai 2027, pemerintah menargetkan digitalisasi diterapkan secara penuh. Dengan sistem tersebut, kebutuhan pencetakan karcis retribusi manual dapat ditekan. Anggaran pencetakan yang selama ini berada di kisaran Rp500 juta per tahun menjadi salah satu biaya yang berpotensi dihemat.
Sekda Sidoarjo Dr Fenny Apridawati mengatakan transformasi digital bukan pekerjaan yang selesai dalam semalam. Pemerintah telah merintis proses tersebut sejak 2017. Karena itu, keberhasilan MyRetribusi membutuhkan kesiapan pemerintah, pengelola pasar, pedagang, juru pungut, serta masyarakat sebagai pengguna layanan.
Dukungan Bank Indonesia dan Bank Jatim ikut memperkuat ekosistem pembayaran melalui fasilitas pembayaran digital dan QRIS Experience. Ke depan, Pemkab Sidoarjo menargetkan transformasi tidak berhenti pada 12 pasar, tetapi menjangkau seluruh 19 pasar daerah. Jika konsisten dijalankan, PASAR JAGO berpotensi menjadi instrumen penting untuk membangun layanan publik yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel sekaligus memperkuat penerimaan daerah. (Tim)













