Tabur Bunga Pak Sakera Soroti Tiga PR Kebudayaan Pasuruan

BANGIL, pojokkasus.com – Tabur Bunga Puspa Mahardika di Makam Pak Sakera, kawasan Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, Minggu (16/8/2026), tidak sekadar menjadi agenda penghormatan terhadap tokoh sejarah dan perjuangan kemerdekaan. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum para budayawan untuk kembali menyampaikan sejumlah persoalan kebudayaan yang dinilai belum mendapat penyelesaian dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Para budayawan yang hadir berharap pelestarian sejarah dan budaya daerah mendapat perhatian lebih serius. Mereka menilai keberadaan tokoh seperti Pak Sakera memiliki nilai penting dalam memperkuat identitas serta sejarah perjuangan masyarakat Pasuruan.

Desakan Pengakuan Pak Sakera

Ketua Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, mengungkapkan bahwa sejumlah agenda kebudayaan telah lama diperjuangkan, tetapi belum seluruhnya terealisasi.

Salah satunya adalah pengusulan Pak Sakera sebagai Pahlawan Nasional. Selain itu, para budayawan juga mendorong agar senjata andalan Pak Sakera, Monteng, ditetapkan sebagai senjata khas Kabupaten Pasuruan.

“Hingga hari ini, gelar Pahlawan Nasional belum disandang oleh Pak Sakera. Demikian pula senjata andalan beliau, yaitu Monteng, belum ditetapkan sebagai senjata khas Kabupaten Pasuruan,” tutur Ki Bagong.

Menurutnya, perjuangan tersebut sebelumnya telah dilakukan melalui komunikasi dengan sejumlah anggota DPRD Jawa Timur. Para budayawan juga pernah bertemu dengan Penjabat Bupati Pasuruan saat itu, Andriyanto.

13 RT Kompak, Karnaval hingga Barik’an Wujud Kemeriahan HUT RI Ke-81 Di Desa Kalidawir.

“Dulu kami pernah mengajukan dan memperjuangkannya bersama Anggota DPRD Jawa Timur, Rohani. Kami juga sempat berjumpa dengan Pj Bupati kala itu, Andriyanto. Namun sayangnya, langkah tersebut tidak berlanjut hingga tuntas,” ungkapnya.

Kabupaten Pasuruan Belum Miliki Gedung Kesenian

Selain persoalan pengakuan terhadap Pak Sakera dan penetapan Monteng, Ki Bagong menyoroti kebutuhan Kabupaten Pasuruan terhadap gedung kesenian yang representatif.

Ia menyebut kebutuhan tersebut telah disampaikan sejak lama. Namun sampai sekarang, Kabupaten Pasuruan dinilai belum memiliki fasilitas khusus yang dapat menjadi ruang berkesenian sekaligus pusat kegiatan para pelaku budaya.

“Permintaan kami akan adanya gedung kesenian ini sudah kami sampaikan sejak lama. Sampai saat ini Kabupaten Pasuruan belum memiliki gedung kesenian. Padahal luas wilayah Kota Pasuruan jauh lebih kecil, namun sudah memilikinya,” tandasnya.

Ki Bagong berharap pemerintah tidak hanya memberikan perhatian terhadap kebudayaan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga menghadirkan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas seniman dan budayawan secara berkelanjutan.

Ia bahkan menggambarkan kondisi pelaku seni dan budaya seperti daun salam yang dibutuhkan ketika memasak, tetapi disisihkan setelah hidangan selesai.

“Bagi kami para budayawan dan seniman, seolah-olah layaknya daun salam. Dibutuhkan saat memasak, namun saat hidangan siap, daunnya justru dibuang ke pinggir,” ujarnya.

Pasar Jago Jadi Mesin Baru Transparansi Retribusi Sidoarjo

DPRD Siap Tindak Lanjuti Aspirasi

Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Febri Irawan, menyatakan bahwa dirinya baru mengetahui secara langsung mengenai aspirasi pembangunan gedung kesenian tersebut melalui pertemuan di makam Pak Sakera.

“Sejujurnya, saya baru mengetahui adanya keinginan pembangunan gedung kesenian dari pertemuan ini. Akan segera saya tanyakan kepada Komisi IV,” jelas Febri.

Ia juga melihat adanya kemungkinan pemanfaatan sejumlah bangunan milik pemerintah yang saat ini tidak digunakan secara optimal.

“Di wilayah Kabupaten Pasuruan juga terdapat sejumlah bangunan yang tidak terpakai. Kemungkinan besar bangunan tersebut dapat kami manfaatkan menjadi gedung kesenian,” lanjutnya.

PN Kepanjen Periksa Sengketa Lahan Balearjo, Sikap Pemdes Dipertanyakan

Sementara terkait pengusulan Pak Sakera sebagai Pahlawan Nasional dan penetapan Monteng sebagai senjata khas daerah, Febri mengakui bahwa kedua agenda tersebut membutuhkan proses dan tahapan sesuai ketentuan.

“Pengusulan gelar pahlawan nasional maupun penetapan senjata khas daerah tidaklah instan dan harus melewati prosedur bertahap. Meski demikian, saya berjanji akan mendampingi dan memperjuangkannya semampu saya,” tegasnya.

Budaya Masuk Pembahasan Perda

Febri juga menyampaikan bahwa DPRD Kabupaten Pasuruan dalam waktu dekat akan memasuki pembahasan rancangan peraturan daerah. Ia berharap proses tersebut dapat menjadi ruang dialog bagi berbagai elemen masyarakat.

Tokoh agama, budayawan, seniman, serta para pelestari sejarah diharapkan dapat memberikan masukan agar kebijakan daerah tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat.

“Segera setelah ini, kami akan memasuki tahap pembahasan rancangan peraturan daerah. Tokoh agama dan tokoh budaya akan kami undang untuk turut memberikan pandangan dan masukan,” pungkasnya.

Momentum Tabur Bunga Puspa Mahardika akhirnya tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada Pak Sakera. Kegiatan tersebut juga membuka kembali ruang pembahasan mengenai masa depan kebudayaan Kabupaten Pasuruan, mulai dari pengakuan terhadap tokoh sejarah, pelestarian warisan budaya, hingga kebutuhan ruang bagi para seniman dan budayawan. (D2y/Tim)

IMG-20260327-WA0038