• https://www.kvi.cz/https://acehinvestment.com/https://online.thedivineclasses.in/course/BANKING-2https://www.darussalam.co.id/https://www.bongkarmuat.com/https://baturhotspring.com/https://www.michatbot.pro/https://apps.menjadiasn.com/https://www.ahlibeyt.ge/bilirsinizmi/https://www.ahlibeyt.ge/https://umai.in/https://bpsol.in/https://edinburgh-places.co.uk/http://www.bemi.org/https://feralscholar.org/https://sbocasino.shop/https://www.thefancan.com/https://sitampan.kamparkab.go.id/pajak-parkir/https://chandragiriprofile.com/https://unionelectronics.net/https://www.jakartatoyota.net/https://www.mentaribaliholiday.com/https://biolake.org/
  • Petik Laut ke-56 Sendangbiru Membuncah, Tumpeng Raksasa hingga Hasil Bumi-Laut Dilarung ke Tengah Samudra - Pojok Kasus

    Petik Laut ke-56 Sendangbiru Membuncah, Tumpeng Raksasa hingga Hasil Bumi-Laut Dilarung ke Tengah Samudra

    MALANG, pojokkasus.com – Ribuan warga memadati kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Minggu (27/9/2026).

    Laut Sendangbiru menjadi saksi puncak Petik Laut ke-56, tradisi pesisir yang kembali digelar meriah melalui prosesi Labuh Sembonyo.

    Tumpeng raksasa, hasil bumi, dan hasil laut diarak dari kawasan permukiman menuju TPI. Seluruh perlengkapan tradisi kemudian dibawa menggunakan perahu menuju tengah laut untuk dilarung.

    Arak-arakan berlangsung semarak. Selain tumpeng dan hasil bumi-laut, rangkaian sesaji juga dilengkapi kepala kambing sebagai bagian dari perlengkapan tradisi Labuh Sembonyo.

    Suasana semakin meriah dengan tampilnya peserta dalam balutan busana dan peran tradisional. Sosok yang dirias menyerupai Nyi Roro Kidul, pasangan pengantin, hingga para punggawa turut mengiringi prosesi menuju TPI.

    Petik Laut ke-56 Sendangbiru, Malang, berlangsung meriah. Tumpeng raksasa, hasil bumi dan laut dilarung dalam prosesi Labuh Sembonyo.
    Tag: Petik Laut, Sendangbiru, Malang, Labuh Sembonyo, Tambakrejo, Sumbermanjing

    Baca juga :

    Pimpin Upacara Bendera, Dandim 0819 Pasuruan Bacakan Amanat Pangdam V/Brawijaya

    Dari TPI, perlengkapan ritual selanjutnya dibawa ke tengah laut. Prosesi larung menjadi simbol ungkapan syukur masyarakat atas hasil laut yang diberikan sekaligus doa bagi keselamatan nelayan, keberkahan, dan kelimpahan rezeki.

    Bukan Sekadar Seremoni, Petik Laut Menghidupkan Gotong Royong
    Petik Laut ke-56 tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Tradisi tersebut menjadi ruang berkumpulnya masyarakat sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong warga pesisir Sendangbiru.

    Rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak awal September. Berbagai agenda digelar untuk menyemarakkan peringatan, mulai dari Pasar Malam, kesenian Jaran pada 22 September, Campursari Adelaras bersama Ida Saputri pada 23 September, Orkes New Arsita bersama Denik Armila Banyuwangi pada 24 September, hingga Pengajian dan Sholawat bersama Habib Ahmad Fikri, M.A., pada 25 September.

    Sehari sebelum puncak acara, Sabtu (26/9/2026), masyarakat dan para nelayan mengikuti tirakatan bersama sebagai bagian dari rangkaian doa dan ungkapan syukur.
    Setelah puncak Petik Laut, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Ruwatan dan Pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Ichwan Dwi Saputra dari Banyuwangi.

    Antusiasme warga terlihat sejak prosesi dimulai. Masyarakat tidak hanya datang dari Desa Tambakrejo dan Kecamatan Sumbermanjing Wetan, tetapi juga dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung tradisi pesisir yang telah bertahan selama puluhan tahun tersebut.

     

    Puncak Petik Laut ke-56 turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Malang dan berbagai unsur terkait. Hadir di antaranya perwakilan Pemerintah Kabupaten Malang, jajaran dinas, anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi Gerindra Rahmat Kartala, Camat Sumbermanjing Wetan, Polres Malang, Polsek, Koramil, Polairud Sendangbiru, Lanal TNI AL Sendangbiru, Kepala Desa Tambakrejo, panitia, perangkat desa, RT/RW, tokoh masyarakat, serta ribuan warga.

    Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa Petik Laut telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang memiliki arti penting bagi masyarakat pesisir Kabupaten Malang.

    Ketua Panitia Petik Laut ke-56, H. Budi Ismiyanto, yang diwakili H. Ridho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan.

    Menurutnya, pelaksanaan Petik Laut tidak terlepas dari dukungan pemerintah desa, nelayan, masyarakat, donatur, sponsor, serta berbagai pihak lainnya.

    “Terima kasih kepada seluruh donatur, sponsor, nelayan, masyarakat, dan semua pihak yang telah membantu sehingga Petik Laut ke-56 dapat terlaksana,” ujar H. Ridho.

    Merawat Tradisi, Menjaga Identitas Sendangbiru

    Kepala Desa Tambakrejo, Agus Harianto, menegaskan pentingnya menjaga Petik Laut sebagai warisan budaya masyarakat Sendangbiru.

    Petik Laut ke-56 Sendangbiru, Malang, berlangsung meriah. Tumpeng raksasa, hasil bumi dan laut dilarung dalam prosesi Labuh Sembonyo.

     

    Menurutnya, keberlangsungan tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kekompakan warga menjadi salah satu kekuatan utama untuk mempertahankan tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.

    Petik Laut juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya pesisir Sendangbiru kepada masyarakat luas.

    Sementara itu, Bupati Malang melalui Kepala Dinas, Pemberdayaan Nurcahyo S.H,.M.Hum., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Petik Laut ke-56.

    Ia menilai tradisi masyarakat pesisir tersebut memiliki nilai budaya, sosial, sekaligus ekonomi. Karena itu, pelestarian tradisi dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan kawasan Sendangbiru.

    Ketika Laut Menjadi Sumber Kehidupan dan Harapan

    Bagi masyarakat Sendangbiru, laut bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Laut telah menjadi bagian dari kehidupan, kebudayaan, sekaligus ruang yang melahirkan tradisi masyarakat pesisir.

    Melalui Labuh Sembonyo, masyarakat menyampaikan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut. Pada saat yang sama, tradisi tersebut menjadi ruang untuk memanjatkan doa bagi keselamatan para nelayan yang setiap hari menghadapi kondisi laut demi menghidupi keluarga.

    Semangat gotong royong juga terasa dalam setiap tahapan pelaksanaan. Persiapan Petik Laut melibatkan nelayan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemuda, panitia, hingga warga setempat.

    Karena itu, kemeriahan Petik Laut ke-56 tidak semata-mata diukur dari besarnya tumpeng, panjangnya arak-arakan, atau ribuan warga yang memadati lokasi.

    Lebih dari itu, tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Sendangbiru terus menjaga hubungan antara budaya, laut, dan kehidupan.

    Arak-arakan hasil bumi dan hasil laut hingga prosesi larung sesaji ke tengah samudra menjadi simbol bahwa bagi masyarakat Sendangbiru, laut merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

    Di tengah perubahan zaman, Petik Laut ke-56 menjadi penanda bahwa tradisi tersebut masih hidup, dirawat bersama, dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Wartawan: DWI

    Editor: @redaksi

    IMG-20260327-WA0038