Pasuruan, pojokkasus.com – Wayang Kulit Bulusari menjadi puncak Ruwah Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Minggu malam (20/9/2026). Pagelaran seni tradisional tersebut digelar mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai di area depan Pendopo Suci, samping Kantor Desa Bulusari. Ki Dalang Hasan Yulianto dari Sidoarjo tampil membawakan lakon Sesaji Rojosuyo. Pertunjukan tersebut disaksikan sekitar 700 warga Bulusari bersama para penggemar wayang kulit dari luar Kecamatan Gempol.
Gelaran tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ruwah Desa Bulusari yang tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertahankan keberadaan seni tradisional di tengah perubahan zaman. Kehadiran ratusan warga menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan wayang kulit. Suasana semakin semarak dengan hadirnya sejumlah tokoh dan unsur pemerintahan desa yang turut menyaksikan jalannya pagelaran hingga acara berlanjut pada pementasan utama.
Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan H. Samsul Hidayat, S.Ag., M.Pd.I., Owner PT Rizky Megatama Sentosa H. Rochmawan, Kepala Desa Bulusari bersama perangkat desa, Ketua BPD beserta anggota, serta masyarakat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan budaya yang diselenggarakan pemerintah desa bersama masyarakat. Ruwah Desa pun tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi momentum mempertemukan masyarakat melalui kegiatan kebudayaan.
Dalam sambutannya, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan H. Samsul Hidayat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Bulusari yang dinilai mampu membangun sinergi dengan lembaga pendidikan dan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, rangkaian kegiatan Ruwah Desa dapat terlaksana dengan lancar meski membutuhkan biaya dan dukungan yang tidak sedikit. Ia menilai keberhasilan kegiatan tersebut tidak terlepas dari semangat kebersamaan, gotong royong, dan kekompakan masyarakat Bulusari.
Samsul juga menekankan pentingnya hubungan sosial yang baik di tengah masyarakat. Ia mengaitkan semangat kebersamaan tersebut dengan konsep hablum minan naas, yakni hubungan antarmanusia yang perlu terus dirawat. Dalam konteks pelestarian budaya, ia menyampaikan bahwa kesenian lokal merupakan bagian dari identitas daerah yang membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah daerah dan masyarakat, menurutnya, memiliki peran dalam menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup dan dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Baca juga
Raperda Sidoarjo Bahas APBD dan Ketertiban Warga
Dalam pandangannya, wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga dapat menjadi tuntunan kehidupan. Melalui cerita, tokoh, konflik, dan pesan moral yang dibawakan, wayang memiliki ruang untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat. Karena itu, keberadaan pagelaran wayang di tengah masyarakat dinilai memiliki nilai budaya sekaligus edukatif. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu cara menghadirkan kembali kesenian tradisional dalam ruang publik yang dapat dinikmati lintas generasi.
Samsul juga menyebut perjalanan kesenian wayang dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa. Ia menyinggung peran Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan budaya, termasuk wayang, sebagai sarana dakwah. Dalam konteks kekinian, warisan budaya tersebut dinilai tetap relevan selama mampu dirawat dan dikembangkan tanpa kehilangan akar tradisinya. Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesenian lokal dapat menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan identitas masyarakat.
Selain wayang kulit, rangkaian kegiatan juga menampilkan Tari Puspitarum sebagai tari penyambutan tamu yang dibawakan siswa-siswi SDN Bulusari 1. Dalam sambutannya, Samsul menyebut seni tari tersebut telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Penampilan generasi muda itu menjadi bagian menarik dari rangkaian kegiatan karena memperlihatkan keterlibatan lembaga pendidikan dalam mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Setelah rangkaian penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit.
Panggung kemudian menjadi pusat perhatian ketika Ki Dalang Hasan Yulianto dari Sidoarjo mulai membawakan lakon Sesaji Rojosuyo. Pagelaran tersebut menjadi penutup sekaligus puncak kegiatan Ruwah Desa Bulusari tahun ini. Di tengah derasnya perkembangan hiburan digital, pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa seni tradisional masih memiliki ruang di tengah masyarakat ketika dikemas melalui kegiatan yang melibatkan warga. Ruwah Desa Bulusari pun tidak hanya meninggalkan kemeriahan, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga budaya lokal secara berkelanjutan.(D2Y/RED)



















