SIDOARJO, pojokkasus.com — Kapasitas pompa naik lima kali lipat menjadi penguatan infrastruktur Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menjelang musim hujan. Melalui pembangunan rumah pompa di Sekardangan dan Jalan Jati depan Lippo Plaza, Pemkab Sidoarjo berupaya meningkatkan kemampuan pengendalian air, mempercepat aliran menuju tempat penampungan, serta menekan potensi genangan di kawasan rawan banjir.
Salah satu perubahan utama berada di rumah pompa Sekardangan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Kabupaten Sidoarjo, Makhmud, menyampaikan bahwa kapasitas pompa ditingkatkan dari sebelumnya 50 liter per detik menjadi 250 liter per detik. Secara nominal, kapasitas tersebut meningkat lima kali lipat. Peningkatan ini diharapkan memperkuat kemampuan pemindahan air, terutama ketika hujan meningkatkan debit limpasan di wilayah Sidokare dan sekitarnya.
Meski kapasitas pompa bertambah, keberhasilan penanganan banjir tetap bergantung pada sejumlah faktor. Kondisi saluran drainase, kapasitas kolam penampungan, kelancaran aliran menuju sungai, serta pemeliharaan peralatan turut menentukan kinerja sistem. Karena itu, peningkatan kapasitas perlu diikuti pengawasan dan evaluasi agar manfaatnya sesuai dengan kebutuhan kawasan yang selama ini berpotensi mengalami genangan.
Bupati Sidoarjo H. Subandi bersama Dinas PUBM telah melakukan inspeksi mendadak di lokasi pembangunan rumah pompa Jalan Jati dan Sekardangan. Peninjauan tersebut bertujuan memeriksa perkembangan pekerjaan sekaligus memastikan pembangunan berjalan sesuai target dan standar kualitas. Di Jalan Jati, depan Lippo Plaza, progres pekerjaan dilaporkan melampaui target sebesar 10 persen. Capaian itu menjadi perhatian pemerintah daerah, tetapi kualitas konstruksi tetap menjadi prioritas sebelum fasilitas diserahterimakan.

Baca juga
http://Dinas Sosial Sidoarjo Bersama Bupati Subandi Serahkan Kursi Roda Langsung Ke Warga.
Subandi secara khusus menyoroti penggunaan material dan pengerjaan pasangan batu di lokasi Jalan Jati. Ia meminta agar bagian konstruksi yang ditemukan kurang baik segera diperbaiki sehingga tidak menimbulkan pekerjaan berulang. Menurutnya, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir harus mengutamakan ketepatan waktu sekaligus ketahanan hasil pekerjaan. Pengawasan berkala diperlukan untuk memastikan fasilitas yang dibangun dapat bekerja secara optimal ketika menghadapi peningkatan debit air.
Di Sekardangan, pembangunan mencakup pekerjaan plengsengan dan rumah pompa. Progresnya dilaporkan mencapai 11 persen, melampaui target sebesar 10 persen. Bupati juga meminta agar pembangunan embung tidak hanya difungsikan untuk menampung air, tetapi turut mendukung penataan lingkungan dan kegiatan ekonomi warga. Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan agar proyek infrastruktur memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk menjaga kelancaran aktivitas UMKM di sekitar kawasan.
Menurut Makhmud, air dari wilayah Sidokare dan sekitarnya direncanakan dialirkan menuju busem atau kolam penampungan sebelum diteruskan ke sungai. Sistem ini diharapkan membantu mengurangi tekanan air di kawasan rawan genangan. Namun, efektivitasnya akan bergantung pada keterhubungan saluran dan kemampuan penampungan menerima debit air yang masuk. Pemerintah perlu memastikan seluruh bagian sistem bekerja secara terpadu, bukan hanya mengandalkan peningkatan kapasitas mesin pompa.
Hot news
RSUD Sidoarjo Tambah 30 Kamar, Proyek Rp8,6 Miliar Diawasi Ketat
Penguatan pengendalian banjir juga dilakukan melalui pembangunan dan perbaikan fasilitas di sejumlah titik, antara lain kawasan Lippo, Banjarpoh, Sidokare, dan Sekardangan. Makhmud menyebut Kabupaten Sidoarjo memiliki 38 rumah pompa dengan kapasitas yang disesuaikan menurut kebutuhan masing-masing wilayah. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menghadapi persoalan genangan yang memerlukan penanganan berbeda berdasarkan kondisi saluran dan karakteristik kawasan.
Khusus kawasan Jalan Jati depan Lippo Plaza, Dinas PUBM merencanakan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengenai pembangunan saluran crossing pada jalan yang menjadi kewenangan provinsi. Saluran itu direncanakan mengarahkan air dari kawasan rawan banjir menuju busem atau kolam penampungan. Koordinasi ini penting karena sistem pengendalian air dapat menghadapi hambatan apabila saluran penghubung belum memadai atau kewenangan pembangunan berada pada instansi berbeda.
Bupati Subandi berharap pembangunan rumah pompa di kedua lokasi selesai sesuai target, memenuhi standar kualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Peningkatan kapasitas pompa dari 50 menjadi 250 liter per detik merupakan langkah penting dalam memperkuat pengendalian banjir Sidoarjo. Namun, klaim keberhasilan baru dapat dinilai melalui kinerja sistem secara menyeluruh, termasuk saluran, penampungan, pemeliharaan, dan dampaknya terhadap genangan saat hujan. Masyarakat membutuhkan infrastruktur yang bukan sekadar selesai dibangun, melainkan benar-benar berfungsi ketika kondisi cuaca menuntut kinerja maksimal.
(Akbar / Tim Kominfo SDA)



















